BAB
I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Masalah
Anak-anak sangat rentan terserang penyakit. Ini disebabkan oleh sistem
imun di dalam tubuh anak yang memang belum terbangun dengan sempurna atau
sedang dalam kondisi yang lemah. Sering kali para orang tua tidak tahu apa yang
harus dilakukan kepada anak-anak mereka saat anak sedang sakit atau salah
mengartikan gejala yang terjadi pada anak tersebut. Pada saat inilah peran orang
tua akan pengetahuan terhadap penyakit-penyakit anak diperlukan untuk
pencegahan awal.
Bebarapa jenis penyakit yang sering menyerang anak adalah TBC, Diare
Akut, Demam, Kejang Demam, Ispa, dan Demam Berdarah. Penyakit-penyakit tersebut
apabila tidak di tangani dengan baik, tidak diperiksakan ke dokter dan orang
tua tidak mempunyai pengetahuan yang cukup terhadap jenis-jenis penyakit
tersebut bias menyababkan kematian.
Kemajuan
teknologi informasi sekarang ini juga mendukung berkembangnya teknologi di
bidang kesehatan atau kedokteran. Dengan mendiagnosa dini suatu penyakit
diharapkan penyakit yang dialami tidak bertambah parah. Pendeteksian suatu
penyakit dengan komputer akan mempermudah tenaga medis atau orang tua untuk
membantu menentukan keputusan yang harus diambil.
Sistem
pakar adalah suatu program komputer cerdas yang menggunakan knowledge
(pengetahuan) dan prosedur inferensi untuk menyelesaikan masalah yang cukup
sulit sehingga membutuhkan seorang ahli untuk menyelesaikannya (Feigenbaum,
1982). Sistem pakar sendiri mempunyai beberapa komponen yang diantaranya adalah
basis pengetahuan. Basis pengetahuan mengandung pengetahuan untuk pemahaman,
formulasi dan penyelesaian masalah.
Pengetahuan
(knowledge) dari pakar tentang penyakit-penyakit yang sering timbul pada
anak-anak akan didata beserta gejala-gejalanya. Kemudian informasi yang telah
didapat akan diformulasikan untuk memperoleh sebuah kesimpulan.
Dalam
melakukan diagnosa, seorang pakar terkadang mendasarkan pada data yang kurang
lengkap atau data yang tidak pasti. Agar sistem pakar dapat melakukan penalaran
sebagaimana seorang pakar meskipun data yang diperoleh kurang lengkap atau
kurang pasti, dapat digunakan CF (Certainty Factor).
Kebanyakan
sistem pakar, untuk mendapatkan data yang tepat terhadap gejala yang ada
(misalnya batuk), memerlukan nilai CF. Sementara hal ini sulit diperoleh
mengingat pasien sendiri sulit memperkirakan berapa derajat ke-batuk-annya.
Sehingga untuk mengetahui derajat kepercayaan pengguna terhadap gejala yang
dialami, diperlukan pemakaian metode kuantifikasi pertanyaan. Yang dimaksud
dengan kuantifikasi pertanyaan yaitu pemberian faktor kuantitas dan lama gejala
yang dialami, setelah itu sistem akan menghitung nilai Certainty Factor nya
dengan menggunakan derajat keanggotaan kuantitas dan gejala tersebut terhadap
nilai dalam aturan.
1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat dirumuskan bahwa
dibutuhkan suatu perangkat lunak atau aplikasi yang dapat membantu dalam
mendiagnosa penyakit penyakit-penyakit yang terjadi pada anak. Dengan adanya
aplikasi sistem pakar penanganan suatu penyakit pada anak akan dapat lebih
efisien dalam hal waktu dan keakuratan. Sehingga dapat membuat suatu sistem pakar
untuk mendiagnosa penyakit-penyakit pada balita dan memberikan saran terapi
yang tepat.
1.3 Manfaat
Pembahasan Masalah
1.
Dapat
memberikan kemudahan bagi orang awam maupun paramedis untuk menangani penyakit
yang diderita pada anak secara cepat dan tepat, serta orangtua yang bisa
mendeteksi secara dini penyakit anaknya untuk dapat melakukan penanggulangan
atas penyakit tersebut.
2.
Untuk
memberikan alternatif kepada para pembangun sistem pakar bahwa metode yang
digunakan dalam perancangan sistem pakar ini dapat memberikan solusi yang cukup
akurat atas keluhan pasien.
Bab II
Pembahasan Masalah
2.1 Penyakit
TBC
a. Definisi TBC
Tuberkulosis atau TB (TBC) adalah
penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru walaupun pada sepertiga kasus
menyerang organ tubuh lain dan ditularkan orang ke orang. Ini juga salah satu
penyakit tertua yang diketahui menyerang manusia. Jika diterapi dengan benar
tuberkulosis yang disebabkan oleh kompleks Mycobacterium tuberculosis,
yang peka terhadap obat, praktis dapat disembuhkan. Tanpa terapi tuberkulosa
akan mengakibatkan kematian dalam lima tahun pertama pada lebih dari setengah
kasus. Namun
dibalik bahaya TB tersebut, seringkali banyak kasus pada anak dan dewasa sering
terjadi underdiagnosis dan paling sering adalah overdiagnosis karena dalam
menegakkan diagnosis tidak mudah. Overdiagnosis artinya tidak mengalami infeksi
TB tetapi didiagniosis dan diobati sebagai TB. Bila diagnosis meragukan
sebaiknya lakukan second opinion ke dokter anak lainnya atau ke dokter ahli
paru anak.
Tuberkulosis adalah penyakit akibat infeksi kuman
Mikobakterium tuberkulosis yang bersifat sistemik sehingga dapat mengenai
hampir semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru yang biasanya
merupakan lokasi infeksi primer. Pada tahun 1992 WHO telah mencanangkan
tuberkulosis sebagai Global Emergency. Laporan WHO tahun 2004 menyatakan bahwa
terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun 2002, sepertiga penduduk
dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis dan menurut regional WHO jumlah
terbesar kasus ini terjadi di Asia Tenggara yaitu 33% dari seluruh kasus di
dunia.
Indonesia berada dalam peringkat ketiga terburuk di dunia
untuk jumlah penderita TB. Setiap tahun muncul 500 ribu kasus baru dan lebih
dari 140 ribu lainnya meninggal. Seratus tahun yang lalu, satu dari lima
kematian di Amerika Serikat disebabkan oleh tuberkulosis.
Tuberkulosis masih merupakan penyakit infeksi saluran napas
yang tersering di Indonesia. Keterlambatan dalam menegakkan diagnosa dan
ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan mempunyai dampak yang besar karena
pasien Tuberkulosis akan menularkan penyakitnya pada lingkungan,sehingga jumlah
penderita semakin bertambah.
Pengobatan Tuberkulosis berlangsung cukup
lama yaitu setidaknya 6 bulan pengobatan dan selanjutnya dievaluasi oleh dokter
apakah perlu dilanjutkan atau berhenti, karena pengobatan yang cukup lama
seringkali membuat pasien putus berobat atau menjalankan pengobatan secara
tidak teratur, kedua hal ini ini fatal akibatnya yaitu pengobatan tidak
berhasil dan kuman menjadi kebal disebut MDR ( multi drugs resistance ), kasus
ini memerlukan biaya berlipat dan lebih sulit dalam pengobatannya sehingga
diharapkan pasien disiplin dalam berobat setiap waktu demi pengentasan
tuberkulosis di Indonesia
Tanggal 24 Maret diperingati dunia sebagai “Hari TBC” oleh
sebab pada 24 Maret 1882 di Berlin, Jerman, Robert Koch mempresentasikan hasil
studi mengenai penyebab tuberkulosis yang ditemukannya.
b. Klasifikasi
· Tuberkulosis
paru terkonfirmasi secara bakteriologis dan histologist
· Tuberkulosis
paru tidak terkonfirmasi secara bakteriologis dan histologis
· Tuberkulosis
pada sistem saraf
· Tuberkulosis
pada organ-organ lainnya
· Tuberkulosis
millier
c. Patofisiologi
Penyebab penyakit ini adalah bakteri kompleks Mycobacterium
tuberculosis. Mycobacteria termasuk dalam famili Mycobacteriaceae dan termasuk
dalam ordo Actinomycetales. kompleks Mycobacterium tuberculosis meliputi M.
tuberculosis, M. bovis, M. africanum, M. microti, dan M. canettii. Dari
beberapa kompleks tersebut, M. tuberculosis merupakan jenis yang terpenting dan
paling sering dijumpai. M.tuberculosis berbentuk batang, berukuran panjang 5µ
dan lebar 3µ, tidak membentuk spora, dan termasuk bakteri aerob. Mycobacteria
dapat diberi pewarnaan seperti bakteri lainnya, misalnya dengan Pewarnaan Gram.
Namun, sekali mycobacteria diberi warna oleh pewarnaan gram, maka warna
tersebut tidak dapat dihilangkan dengan asam. Oleh karena itu, maka
mycobacteria disebut sebagai Basil Tahan Asam atau BTA. Beberapa mikroorganisme
lain yang juga memiliki sifat tahan asam, yaitu spesies Nocardia, Rhodococcus,
Legionella micdadei, dan protozoa Isospora dan Cryptosporidium. Pada dinding
sel mycobacteria, lemak berhubungan dengan arabinogalaktan dan peptidoglikan di
bawahnya. Struktur ini menurunkan permeabilitas dinding sel, sehingga
mengurangi efektivitas dari antibiotik. Lipoarabinomannan, suatu molekul lain
dalam dinding sel mycobacteria, berperan dalam interaksi antara inang dan
patogen, menjadikan M. tuberculosis dapat bertahan hidup di dalam makrofaga.
Penularan TBC terjadi karena menghirup udara yang mengandung
Mikobakterium tuberkulosis (M.Tb), di alveolus M.Tb akan difagositosis oleh
makrofag alveolus dan dibunuh. Tetapi bila M.Tb yang dihirup virulen dan
makrofag alveolus lemah maka M.Tb akan berkembang biak dan menghancurkan
makrofag. Monosit dan makrofag dari darah akan ditarik secara kemotaksis ke
arah M.Tb berada, kemudian memfagositosis M.Tb tetapi tidak dapat
membunuhnya. Makrofag dan M.Tb membentuk tuberkel yang mengandung sel-sel
epiteloid, makrofag yang menyatu (sel raksasa Langhans) dan limfosit. Tuberkel
akan menjadi tuberkuloma dengan nekrosis dan fibrosis di dalamnya dan mungkin
juga terjadi kalsifikasi. Lesi pertama di alveolus (fokus primer) menjalar ke
kelenjar limfe hilus dan terjadi infeksi kelenjar limfe, yang bersama-sama
dengan limfangitis akan membentuk kompleks primer. Dari kelenjar limfe M.Tb
dapat langsung menyebabkan penyakit di organ-organ tersebut atau hidup dorman
dalam makrofag jaringan dan dapat aktif kembali bertahun-tahun kemudian.
Tuberkel dapat hilang dengan resolusi atau terjadi kalsifikasi atau
terjadi nekrosis dengan masa keju yang dibentuk oleh makrofag. Masa keju dapat
mencair dan M.Tb dapat berkembang biak ekstra selular sehingga dapat meluas di
jaringan paru dan terjadi pneumonia, lesi endobronkial, pleuritis atau Tb
milier. Juga dapat menyebar secara bertahap menyebabkan lesi di organ-organ
lainnya .
d. Penularan
Penularan penyakit ini karena kontak dengan dahak atau
menghirup titik-titik air dari bersin atau batuk dari orang yang terinfeksi
kuman tuberkulosis, anak anak sering mendapatkan penularan dari orang dewasa di
sekitar rumah maupun saat berada di fasilitas umum seperti kendaraan umum,
rumah sakit dan dari lingkungan sekitar rumah. Oleh sebab ini masyarakat di
Indonesia perlu sadar bila dirinya terdiagnosis tuberkulosis maka hati hati
saat berinteraksi dengan orang lain agar tidak batuk sembarangan , tidak membuang
ludah sembarangan dan sangat dianjurkan untuk bersedia memakai masker atau
setidaknya sapu tangan atau tissue.
Dalam memerangi penyebaran Tuberkulosis terutama pada anak
anak yang masih rentan daya tahan tubuhnya maka pemerintah Indonesia telah memasukkan
Imunisasi Tuberkulosis pada anak anak yang disebut sebagai Imunisasi BCG
sebagai salah satu program prioritas imunisasi wajib nasonal beserta dengan 4
jenis imunisasi wajib lainnya yaitu hepatitis B, Polio, DPT dan campak,
jadwalnya ada di Jadwal imunisasi
e. Diagnosis
Diagnosis paling tepat adalah ditemukannya basil Tb dari bahan
yang diambil dari pasien misalnya sputum, bilasan lambung, biopsi dll. Tetapi
pada anak hal ini sulit dan jarang didapat, sehingga sebagian besar diagnosis
Tb anak didasarkan gambaran klinis, gambaran radiologis, dan uji tuberkulin.
Untuk itu penting memikirkan adanya Tb pada anak kalau
terdapat keadaan atau tanda-tanda yang mencurigakan seperti dibawah ini :
Pada anak harus dicurigai menderita Tb kalau :
·
Kontak erat (serumah) dengan
penderita Tb dengan sputum BTA (+)
·
Terdapat reaksi kemerahan cepat
setelah penyuntikan BCG dalam 3-7 hari.
·
Terdapat gejala umum
Gejala-gejala
yang harus dicurigai Tb
Gejala
umum/tidak spesifik
·
Berat badan turun atau malnutrisi
tanpa sebab yang jelas atau tidak naik dalam 1 bulan dengan penanganan gizi.
·
Nafsu makan tidak ada (anoreksia)
dengan gagal tumbuh dan berat badan tidak naik (failure to thrive) dengan
adekuat.
·
Demam lama/berulang tanpa sebab
yang jelas (bukan tifus, malaria atau infeksi saluran nafas akut), dapat
disertai keringat malam.
·
Pembesaran kelenjar limfe
superfisialis yang tidak sakit, biasanya multiple, paling sering di daerah
leher, axilla dan inguinal.
Gejala-gejala
respiratorik :
·
batuk lama lebih dari 3 minggu
·
tanda cairan di dada, nyeri dada
Gejala
gastrointestinal
·
diare persisten yang tidak sembuh
dengan pengobatan diare
·
benjolan/massa di abdomen
·
tanda-tanda cairan dalam abdomen
Gejala
Spesifik
1.
Tb kulit/skrofuloderma
2.
Tb tulang dan sendi
·
Tulang punggung
(spondilitis) :
gibbus
·
Tulang panggul
(koksitis) : pincang
·
Tulang
lutut : pincang dan/atau bengkak
·
Tulang kaki dan tangan
3. Tb Otak
dan Saraf
·
Meningitis dengan gejala
iritabel, kaku kuduk, muntah-muntah dan kesadaran menurun
4. Gejala
mata : Conjungtivitis phlyctenularis, Tuberkel koroid (hanya terlihat dengan
funduskopi)
·
Uji tuberculin (Mantoux) Uji
tuberkulin dilakukan dengan cara Mantoux (penyuntikan intrakutan). Tuberkulin
yang dipakai adalah tuberkulin PPD RT 23 kekuatan 2 TU atau PPD-S kekuatan 5
TU. Pembacaan dilakukan 48-72 jam setelah penyuntikan. Diukur diameter
tranversal dari indurasi yang terjadi. Ukuran dinyatakan dalam mm, dikatakan
positif bila indurasi : > 10 mm.
·
Reaksi cepat BCG Bila
dalam penyuntikan BCG terjadi reaksi cepat berupa kemerahan dan indurasi >
5 mm (dalam 3-7 hari) maka dicurigai telah terinfeksi Mycobacterium
tuberculosis.
·
Foto Rontgen Paru :
seringkali tidak khas Pembacaan sulit, hati-hati
kemungkinan overdiagnosis atau underdiagnosis. Paling mungkin
kalau ditemukan infiltrat dengan pembesaran kelenjar hilus atau kelenjar
paratrakeal.
·
Gambaran rontgen paru pada Tb dapat
berupa : Milier, Atelektasis, Infiltrat , pembesaran
kelenjar hilus atau paratrakeal, konsolidasi (lobus), reaksi pleura dan/atau
efusi pleura, kalsifikasi, bronkiektasis, kavitas, destroyed lung. Diskongkruensi
antara gambaran klinis dan gambaran radiologis, harus dicurigai Tb. Foto
Rontgen paru sebaiknya dilakukan PA dan lateral serta dibaca oleh ahlinya.
·
Pemeriksaan mikrobiologi :
pemeriksaan langsung BTA (mikroskopis) dan kultur dari sputum (pada anak
bilasan lambung karena sputum sulit didapat ).
·
Pemeriksaan serologi (ELISA,
PAP, Mycodot, dll) masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
·
Pemeriksaan patologi anatomi.
·
Respon terhadap pengobatan OAT.
Kalau dalam 2 bulan terdapat perbaikan klinis nyata, akan menunjang atau
memperkuat diagnosis TBC.
f. Tatalaksana
·
Obat harus diminum teratur,
setiap hari, dan dalam waktu yang cukup lama. Dosis obat harus disesuaikan
dengan berat badan.
·
Secara garis besar dapat dibagi
menjadi tata laksana untuk :
1.
TBC paru tidak berat Pada TBC
paru yang tidak berat cukup diberikan 3 jenis obat anti tuberkulosis (OAT)
dengan jangka waktu terapi 6 bulan. Tahap intensif terdiri dari isoniazid (H),
Rifampisin (R) dan Pyraninamid (Z) selama 2 bulan diberikan setiap hari (2HRZ).
Tahap lanjutan terdiri dari Isoniazid (H) dan Rifampisin (R) selama 4
bulan diberikan setiap hari (4HR).
2. TBC paru
berat atau TBC ekstrapulmonal
Pada TBC berat (TBC milier, meningitis, dan TBC tulang) maka juga diberikan
Streptomisin atau Etambutol pada permulaan pengobatan. Jadi pada TBC berat
biasanya pengobatan dimulai dengan kombinasi 4-5 obat selama 2 bulan, kemudian
dilanjutkan dengan Isoniazid dan Rifampisin selama 10 bulan lagi atau lebih,
sesuai dengan perkembangan klinisnya. Kalau ada kegagalan karena resistensi
obat, maka obat diganti sesuai dengan hasil uji resistensi, atau tambah dan
ubah kombinasi OAT.
Obat anti tuberkulosis yang digunakan adalah :
·
Isoniazid (INH) : selama 6-12
bulan
1.
Dosis
terapi :
5-10 mg/kgBB/hari diberikan sekali sehari
2.
Dosis
profilaksis : 5-10 mg/kgBB/hari
diberikan sekali sehari
3.
Dosis
maksimum : 300 mg/hari
·
Rifampisin ( R ) : selama 6-12
bulan
1.
Dosis :
10-20 mg/kgBB/hari sekali sehari
2.
Dosis
maksimum : 600 mg/hari
·
Pirazinamid (Z) : selama 2-3
bulan pertama
1.
Dosis :
25-35 mg/kgBB/hari diberikan 2 kali sehari
2.
Dosis
maksimum : 2 gram/hari
·
Etambutol (E) : selama 2-3 bulan
pertama
1.
Dosis :
15-20 mg/kgBB/hari diberikan sekali atau
2 kali sehari
2.
Dosis
maksimum : 1250 mg/hari
·
Streptomisin (S) : selama 1-2
bulan pertama
1.
Dosis
: 15-40 mg/kg/hari diberikan
sekali sehari
intra
muskular
2.
Dosis
maksimum : 1
gram/hari
·
Kortikosteroid diberikan pada
keadaan khusus seperti : Tb milier, meningitis Tb, endobronkial Tb, pleuritis
Tb, perikarditis Tb, peritonitis Tb.
·
Boleh diberikan prednison 1-2
mg/kg BB/hari selama 1-2 bulan
PENGHENTIAN
PENGOBATAN
·
Bila setelah 6 bulan evaluasi
membaik : batuk menghilang, klinis membaik, anak menjadi lebih aktif, berat
badan meningkat, foto thorax membaik, penurunan LED
·
Bila setelah 6 bulan tidak ada
perbaikan, kemungkinan :
1.
Kepatuhan minum obat yang kurang
2.
MDR (Multi Drug Resisten)
3.
Diagnosis bukan TBC
OBAT
PENCEGAHAN DENGAN INH : 5-10 mg/kg BB/hari diberikan pada :
·
Profilaksis primer : anak yang
kontak erat dengan penderita TB menular (BTA positip, tetapi belum terinfeksi).
·
Profilaksis sekunder : anak
dengan infeksi TB yaitu tuberkulin positip dan klinis baik, dengan faktor
resiko yang memungkinkan menjadi TB aktif.
1.
umur dibawah 5 tahun
2.
menderita penyakit infeksi
(morbili, varicella)
3.
mendapat obat imunosupresif
(sitostatik, steroid, dll)
4.
umur akil balik
5.
\kalau ada infeksi HIV
g. Komplikasi
Pada anak komplikasi biasanya terjadi pada 5 tahun pertama
setelah infeksi terutama 1 tahun pertama. Penyebaran limfohematogen menjadi Tb
milier atau meningitis Tb atau efusi pleura biasanya terjadi 3-6 bulan setelah
infeksi primer. Tb tulang dan sendi terbanyak terjadi dalam 3 tahun pertama,
dan Tb ginjal dan kulit terbanyak setelah 5 tahun dari infeksi primer.
SISTEM SKORING DIAGNOSIS TUBERKULOSIS ANAK
Parameter
|
1
|
2
|
3
|
|
Kontak Tb
|
Tidak jelas
|
Laporan keluarga, BTA (-) atau
tidak tahu
|
Kavitas (+), BTA tidak jelas
|
BTA (+)
|
Uji Tuberkulin
|
Negatif
|
Positif ( ≥ 10 mm atau ≥ 5 mm
pada keadaan imunosupresi)
|
||
Berat badan/keadaan gizi
|
BB/TB < 90% atau BB/U <
80%
|
Klinis gizi buruk atau
BB/TB< 70%atau BB/U < 60%
|
||
Demam tanpa sebab
jelas |
≥ 2 minggu
|
|||
Batuk
|
≥ 3 minggu
|
|||
Pembesaran kelenjar limfe
kolli, aksila, inguinal
|
≥ 1cm, jumlah >1, tidak
nyeri
|
|||
Pembengkakan tulang/sendi
panggul, lutut, falang
|
Ada pembengkakan
|
|||
Foto Rontgen toraks
|
Normal/tidak jelas
|
lobar
o kalsifikasi
+ infiltrat
o pembesaran
kelenjar + infiltrat
|
Catatan :
·
Diagnosis dengan sistem skoring
ditegakkan oleh dokter
·
Jika dijumpai skrofuloderma,
langsung didiagnosis tuberkulosis
·
Berat badan dinilai saat datang (moment
opname)
·
Demam dan batuk tidak ada respons
terhadap terapi sesuai baku
·
Foto rontgen toraks bukan alat
diagnostik utama pada Tb anak
·
Semua anak dengan reaksi cepat
BCG harus dievaluasi dengan sistem skoring Tb anak
·
Didiagnosis Tb jika skor ≥ 6
(skor maksimal 14). Cut off point ini masih bersifat tentatif/sementara, nilai
definitif menunggu hasil penelitian yang sedang dilaksanakan.
2.2 Diare
Akut
a. Definisi Diare Akut
Diare pada anak masih menjadi problem
kesehatan sampai dengan saat ini. Dengan angka kematian yang masih tinggi
terutama pada anak usia 1-4 tahun, menunjukkan bahwa diare memerlukan
penanganan yang tepat dan memadai untuk mengatasinya. Diare dapat menyerang
anak-anak maupun orang dewasa, tapi balita cenderung lebih rentan terserang penyakit
ini. Umumnya, diare lebih sering ditemukan pada lingkungan yang kurang bersih
dan populasi penduduk yang relatif padat. Karena, pada lingkungan seperti itu
biasanya sumber air tidak bersih dan organisme yang terkandung dalam udara
sekitar pun mengandung penyakit.
Berdasarkan data Riset Kesehatan
(Riskesdas) tahun 2007, diare menempati urutan teratas sebagai penyebab
kematian bayi dan balita. Insiden penyakit diare cenderung meningkat dari tahun
ke tahun. Tahun 2003 tercatat kejadian diare sebesar 374/1000 penduduk dan
tahun 2010 menjadi 411/1000 penduduk. Di dunia, diare merupakan penyebab
kematian paling umum pada balita dan menyebabkan kematian lebih dari 2,6 juta
setiap tahunnya.
Hendaknya orang tua bersabar dan tetap
tenang saat anaknya terkena diare, karena pada dasarnya diare merupakan
penyakit yang dapat sembuh sendiri (self limiting disease). Yang dikhawatirkan
dari diare adalah terjadinya dehidrasi. Segera bawa anak ke fasilitas pelayanan
kesehatan atau ke dokter jika kondisinya tidak membaik dalam 3 hari atau buang
air besar cair bertambah sering, muntah berulang-ulang, air kencingnya sedikit
atau tidak ada, makan atau minum sangat sedikit, timbul demam dan BAB anak
berdarah
Menurut WHO diare adalah buang air besar
dengan frekuensi lebih sering (lebih dari tiga kali sehari) dan bentuk tinja
lebih cair dari biasanya. Dikatakan diare akut bila berlangsung < dari 14
hari. Namun perlu diingat bahwa bayi baru lahir umumnya buang air besar sampai
lebih dari sepuluh kali sehari dan frekuensinya akan berkurang seiring dengan
bertambahnya usia bayi. Sehingga sebagai orangtua harus mengetahui apa yang
normal buat bayi atau anak dari kebiasaan buang air besar mereka
b. Penyebab Diare Pada Bayi dan Balita
Diare dapat disebabkan antara lain :
1. Infeksi
virus (tersering rotavirus)
2. Bakteri
3. Parasit
4. Anak
yang sedang menjalani terapi antibiotik
5. Alergi
susu formula
6. Bayi
diberi makanan yang tidak sesuai dengan umurnya
7. Keracunan
makanan
8. Memakan
makanan yang asam, pedas atau bersantan sekaligus secara
berlebihan
9. Akibat
infeksi dari penyakit lain seperti infeksi saluran kemih, campak dan
lain-lain
c. Cara Penularan :
Diare dapat ditular melalui beberapa cara antara lain oleh :
1. Makanan
dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah dicemari oleh serangga atau
kontaminasi oleh tangan yang kotor.
2. Anak
bermain dengan mainan yang sudah terkontaminasi, apalagi pada bayi sering memasukkan apapun kedalam mulutnya.
3. Pengunaan
sumber air yang sudah tercemar
4. Tidak
memasak air sampai mendidih
5. Orang
yang menyiapkan makanan anak tidak mencuci tangan dengan bersih setelah selesai
buang air besar atau setelah membersihkan tinja anak yang terinfeksi, sehingga
mengkontaminasi perabotan dan alat-alat yang dipegangnya.
6. Pencucian
peralatan makan dan minum menggunakan air yang tidak bersih
7. Botol
susu tidak di rebus terlebih dahulu sebelum digunakan
d. Tanda-Tanda Dehidrasi
Saat diare, anak mengalami kehilangan cairan dan elektrolit melalui
buang air besarnya. Bila kehilangan cairan dan elektrolit tersebut tidak
mendapatkan penggantian, maka anak akan mengalami dehidrasi bisa ringan, sedang
ataupun berat.
Pada
bayi dan anak yang mengalami dehidrasi akan menunjukkan tanda-tanda di bawah
ini :
1. Dehidrasi
ringan sampai sedang : anak rewel, gelisah, tampak kehausan, mata terlihat lebih
cekung daripada biasanya, tes cubitan di kulit (turgor) kembalinya lambat
2. Dehidrasi
berat : anak tidak sadar, mata cekung, sangat lesu, lemah, tidak merasa haus,
tes turgor kembalinya sangat lambat, air kencing sedikit bahkan sampai tidak
kencing, anak menangis tapi tidak keluar air mata. Pada bayi usia < 12 bulan
terlihat ubun-ubun kepala terlihat cekung.
Cara
pemeriksaan turgor kulit adalah dengan menjepit atau mencubit kulit selama
30-60 detik kemudian dilepaskan. Bila turgor kulit masih baik, kulit akan cepat
kembali ke keadaan semula. Bila turgor kulit tidak baik, maka kembalinya kulit
akan lambat, kondisi tersebut menunjukkan bahwa anak mengalami dehidrasi.
![]() |
e. Penanganan :
Penanganan diare ditujukan untuk mengobati gejala yang ada, mencegah
dan menanggulangi dehidrasi dan keseimbangan elektrolit serta mencegah dan
menanggulangi gangguan gizi. Jadi untuk melaksanakan terapi diare harus secara
secara komprehensif, efisien dan efektif. Tindakan yang dapat dilakukan adalah
:
1. Memberikan
makanan yang kaya gizi
2. Makan
lebih sering dengan porsi yang lebih sedikit
3. Jangan
makan atau minum terlalu cepat
4. Berikan
ASI atau susu formula lebih sering
5. Berikan
asupan zinc
6. Berikan
cairan yang mengandung elektrolit (oralit) setiap buang air besar (BAB). Bila
tidak ada oralit dapat menggunakan air tajin atau kuah sayur. Pemberian cairan
harus diberikan sedikit demi sedikit dengan frekuensi sesering mungkin
7. Tidak
minum minuman yang manis
8. Bila
anak disertai muntah, tunggu 10 menit kemudian lanjutkan dengan pemberian
oralit sedikit demi sedikit
9. Memberikan
probiotik yang dapat dicampur dalam minuman ataupun makanan anak. Tujuan
pemberian probiotik adalah memperbanyak kuman baik sehingga dapat mempersingkat
lamanya diare
10. Jangan
berikan obat untuk menghentikan diare apapun kecuali obat dari dokter
11. Segera
bawa ke rumah sakit bila diare terus berlanjut dan anak terlihat semakin lemah
f. Pencegahan Diare
Berikut beberapa tips yang dapat mencegah bayi dan anak terserang
diare, antara lain :
1. Memberikan
ASI ekslusif sampai bayi berusia 6 bulan
2. Setelah
bayi berusia 6 bulan beri tambahan makanan pedamping ASI secara bertahap dalam
jumlah dan kelembutannya
3. Biasakan
mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir sebelum menyiapkan makanan
untuk bayi dan anak serta setelah BAB
4. Memasak
air minum sampai mendidih
5. Merebus
botol susu sebelum dipakai
6. Mencuci
alat-alat makan dan minum dengan air bersih dan membilasnya dengan air matang
7. Membiasakan
buang sampah pada tempatnya
8. Anak
– anak jangan bermain di tempat yang kotor
9. Biasakan
anak mencuci tangan sebelum makan atau minum dan setelah menggunakan kamar
mandi
10. Tutup
makanan atau minuman sehingga terhindar dari binatang
11. Kenali
jenis makanan yang dapat menimbulkan alergi terutama pada balita.
12. Bersihkan
alat bermain si kecil serta lingkungan rumah secara teratur
13. Sajikan
makanan yang dimasak atau di goreng. Jika belum diolah masukkan ke dalam
kulkas, karena membiarkan makanan pada suhu kamar dapat mendorong pertumbuhan
bakteri
14. Pemberian
vaksin rotavirus
2.3 Demam
a. Definisi Demam
Definisi demam adalah keadaan suhu tubuh di atas suhu normal, yaitu
suhu tubuh di atas 38º Celsius. Suhu tubuh adalah suhu visera, hati, otak, yang
dapat diukur lewat oral, rektal, dan aksila.1,2,3 Cara pengukuran suhu
menentukan tinggi rendahnya suhu tubuh. Pengukuran suhu melalui mulut dilakukan
dengan mengambil suhu pada mulut (mengulum termometer dilakukan pada anak yang
sudah kooperatif ), hasilnya hampir sama dengan suhu dubur, namun bisa lebih
rendah bila frekuensi napas cepat. Pengukuran suhu melalui dubur (rektal)
dilakukan pada anak di bawah 2 tahun. Termometer masuk ke dalam dubur sedalam
2-3 cm dan kedua pantat dikatupkan, pengukuran dilakukan selama 3 menit. Suhu
yang terukur adalah suhu tubuh yang mendekati suhu yang sesungguhnya (core
temperature). Dikatakan demam bila suhu di atas 380C. Pengukuran suhu melalui
ketiak (axilar) hanya dapat dilakukan pada anak besar mempunyai daerah aksila
cukup lebar, pada anak kecil ketiaknya sempit sehingga terpengaruh suhu luar.
Pastikan puncak ujung termometer tepat pada tengah aksila dan pengukuran
dilakukan selama 5 menit. Hasil pengukuran aksila akan lebih rendah 0,5-1,00C
dibandingkan dengan hasil pengukuran melalui dubur. Pengukuran suhu dengan cara
meraba kulit, daerah yang diraba adalah daerah yang pembuluh darahnya banyak
seperti di daerah pipi, dahi, tengkuk. Meskipun cara ini kurang akurat
(tergantung kondisi tangan ibu), namun perabaan ibu cukup bias dipercaya dan
digunakan sebagai tanda demam pada program MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit
).
b. Pengaturan Suhu Tubuh
Suhu adalah hasil produksi metabolisme tubuh yang diperlukan untuk
kelancaran aliran darah dan menjaga agar reaksi kimia tubuh dapat berjalan baik
(enzim hanya bekerja pada suhu tertentu). Sebagai makhluk yang homeotermik,
anak selalu berusaha mengatur suhu tubuhnya. Suhu tubuh diatur oleh suatu
mekanisme yang menyangkut susunan saraf, biokimia, dan hormonal. Hipotalamus
menerima informasi suhu tubuh bagian dalam dari suhu darah yang masuk ke otak
dan informasi suhu luar tubuh dari reseptor panas di kulit. Termostat dalam
hipotalamus diatur pada set-point sekitar suhu 370C dengan rentang sekitar 10C,
dan suhu dipertahankan dengan menjaga keseimbangan pembentukan atau pelepasan
panas. Saraf eferen dari hipotalamus terdiri dari saraf somatik dan saraf
autonom, sehingga hipotalamus dapat mengatur aktifitas otot, kelenjar keringat,
peredaran darah, dan ventilasi paru. Hipotalamus posterior merupakan pusat
pengatur yang bertugas meningkatkan produksi panas dan mengurangi pengeluaran
panas. Bila suhu luar lebih rendah, pembentukan panas akan dilakukan dengan
meningkatkan metabolisme, dengan mekanisme kontraksi otot / menggigil,
pengeluaran panas akan dikurangi dengan vasokonstriksi pembuluh darah kulit dan
pengurangan produksi keringat. Hipotalamus anterior merupakan pusat pengatur
pengeluaran panas. Bila suhu di luar tubuh lebih tinggi maka pengeluaran panas
ditingkatkan dengan cara vasodilatasi, evaporasi (berkeringat), radiasi
(dipancarkan), kontak (bersinggungan/ kompres), aliran (dari daerah panas ke
dingin), dan konveksi.2,3,4 Permukaan tubuh anak relatif lebih luas
dibandingkan dewasa, sehingga proses penguapan dan radiasi sangat penting,
terutama untuk daerah tropis.
c. Penyebab Demam
Demam merupakan akibat kenaikan set point (oleh sebab infeksi) atau
oleh adanya ketidakseimbangan antara produksi panas dan pengeluarannya. Demam
pada infeksi terjadi akibat mikro organisme merangsang makrofag atau PMN
membentuk PE (faktor pirogen endogenik) seperti IL-1, IL-6, TNF (tumuor
necrosis factor), dan IFN (interferon). Zat ini bekerja pada hipotalamus dengan
bantuan enzim cyclooxygenase pembentuk prostaglandin. Prostaglandin-lah yang meningkatkan
set point hipotalamus. Pada keadaan lain, misalnya pada tumor, penyakit darah
dan keganasaan, penyakit kolagen, penyakit metabolik, sumber pelepasan PE bukan
dari PMN tapi dari tempat lain.1,2,3,4 Kemampuan anak untuk beraksi terhadap
infeksi dengan timbulnya manifestasi klinis demam sangat tergantung pada umur.
Semakin muda usia bayi, semakin kecil kemampuan untuk merubah set-point dan memproduksi
panas. Bayi kecil sering terkena infeksi berat tanpa disertai dengan gejala
demam.
d. Patofisiologi Demam
Secara teoritis kenaikan suhu pada infeksi dinilai menguntungkan,
oleh karena aliran darah makin cepat sehingga makanan dan oksigenasi makin
lancar. Namun kalau suhu terlalu tinggi (di atas 38,5ºC) pasien mulai merasa
tidak nyaman, aliran darah cepat, jumlah darah untuk mengaliri organ vital
(otak, jantung, paru) bertambah, sehingga volume darah ke ekstremitas
dikurangi, akibatnya ujung kaki/tangan teraba dingin. Demam yang tinggi memacu
metabolisme yang sangat cepat, jantung dipompa lebih kuat dan cepat, frekuensi napas
lebih cepat. Dehidrasi terjadi akibat penguapan kulit dan paru dan disertai
dengan ketidakseimbangan elektrolit, yang mendorong suhu makin tinggi. Kerusakan
jaringan akan terjadi bila suhu tubuh lebih tinggi dari 410C, terutama pada
jaringan otak dan otot yang bersifat permanen. Kerusakan tersebut dapat menyebabkan
kerusakan batang otak, terjadinya kejang, koma sampai kelumpuhan. Kerusakan
otot yang terjadi berupa rabdomiolisis dengan akibat terjadinya mioglobinemia.3,4,7
e. Klasifikasi Demam untuk Menentukan Tindakan
Demam dapat merupakan satu-satunya gejala yang ada pada pasien
infeksi. Panas dapat dibentuk secara berlebihan pada hipertiroid, intoksikasi
aspirin atau adanya gangguan pengeluaran panas, misalnya heatstroke.
Klasifikasi dilakukan berdasar pada tingkat kegawatan pasien, etiologi demam,
dan umur.5,6,8,9,10 Klasifikasi berdasarkan umur pasien dibagi menjadi kelompok
umur kurang dari 2 bulan, 3-36 bulan dan lebih dari 36 bulan. Pasien berumur
kurang dari 2 bulan, dengan atau tanpa tanda SBI (serious bacterial infection).
Infeksi seringkali terjadi tanpa disertai demam. Pasien demam harus dinilai
apakah juga menunjukkan gejala yang berat.11 Menurut Yale Acute Illness
Observation Scale atau Rochester Criteria, yang menilai adakah infeksi yang
menyebabkan kegawatan. Pemeriksaan darah (leukosit dan hitung jenis) dapat
merupakan petunjuk untuk perlunya perawatan dan pemberian antibiotik empirik. Klasifikasi
berdasarkan lama demam pada anak, dibagi menjadi:
1. Demam kurang 7 hari (demam
pendek) dengan tanda lokal yang jelas, diagnosis etiologik dapat ditegakkan
secara anamnestik, pemeriksaan fisis, dengan atau tanpa bantuan laboratorium, misalnya
tonsilitis akut.
2. Demam lebih dari 7 hari,
tanpa tanda lokal, diagnosis etiologik tidak dapat ditegakkan dengan amannesis,
pemeriksaan fisis, namun dapat ditelusuri dengan tes laboratorium, misalnya demam
tifoid.
3. Demam yang tidak diketahui
penyebabnya, sebagian terbesar adalah sindrom virus. Di samping klasifikasi tersebut di atas, masih ada klasifikasi
lain yaitu klasifikasi kombinasi yang menggunakan tanda kegawatan dan umur
sebagai entry, dilanjutkan dengan tanda klinis, lama demam dan daerah paparan
sebagai kriteria penyebab, seperti terlihat pada algoritme di bawah ini.
f. Pendekatan Tatalaksana
Pada tahap tertentu demam dapat menguntungkan pasien dalam arti
dapat meningkatkan fagositas dan menurunkan viabilitas kuman, meskipun
penelitian yang ada belum mendukung manfaat klinisnya. Namun kecemasan orang
tua dan keraguan dokter mendorong tindakan menurunkan demam, meskipun tindakan
itu dapat mengaburkan gejala dan obat yang dipakai belum tentu aman dari risiko
sindrom Reye, intoksikasi salisilat, dan gangguan hati. Penurunan demam harus
sesuai dengan klasifikasi penyebabnya, apakah perlu menurunkan set-point atau
dengan cara lain. Tata laksana anak dengan demam terdiri dari tatalaksana
fisis, dan pengobatan baik simtomatik maupun etiologik.
g. Tindakan Umum Penurunan Demam secara Simtomatik
Diusahakan agar anak tidur atau istirahat agar metabolismenya
menurun. Cukupi cairan agar kadar elektrolit tidak meningkat saat evaporasi
terjadi. Aliran udara yang baik misalnya dengan kipas, memaksa tubuh berkeringat,
mengalirkan hawa panas ke tempat lain sehingga demam turun. Jangan menggunakan
aliran yang terlalu kuat, karena suhu kulit dapat turun mendadak. Ventilasi /
regulasi aliran udara penting di daerah tropik. Buka pakaian/selimut yang tebal
agar terjadi radiasi dan evaporasi. Lebarkan pembuluh darah perifer dengan cara
menyeka kulit dengan air hangat (tepid-sponging). Mendinginkan dengan air es
atau alkohol kurang bermanfaat (justru terjadi vasokonstriksi pembuluh darah),
sehingga panas sulit disalurkan baik lewat mekanisme evaporasi maupun radiasi.
Pada hipertermi, pendinginan permukaan kulit (surfacecooling) dapat membantu.
Tindakan simtomatik yang lain ialah dengan pemberian obat demam. Cara kerja
obat demam adalah dengan menurunkan set-point di otak dan membuat pembuluh
darah kulit melebar sehingga pengeluaran panas ditingkatkan. Obat yang
sederhana adalah asam salisilat dan derivatnya. Rentang daya kerja obat ini
cukup panjang, aman untuk dikonsumsi umum. Beberapa golongan antipiretik murni,
dapat menurunkan suhu bila anak demam namun tidak menyebabkan hipotermi bila
tidak ada demam, seperti: asetaminofen, asetosal, ibuprofen. Obat lain adalah
obat yang bersifat antipiretik pada dosis rendah dan menimbulkan hipotermi pada
dosis tinggi seperti metamizol dan obat yang dapat menekan pusat suhu secara
langsung (chlorpromazine), mengurangi menggigil namun dapat menyebabkan hipotermi
dan hipotensi.3,4,8,1
![]() |
h. Tatalaksana Demam yang Disebabkan Penyakit Infeksi
Pengobatan dilakukan sesuai dengan klasifikasi etiologik. Kesukaran
yang dihadapi adalah pola penyakit yang berbeda baik dari aspek geografik maupun
umur pasien. Bagan di atas tidak dapat diterapkan begitu saja pada daerah
endemik malaria atau daerah endemik demam berdarah. Sekali lagi sifat paparan,
letak geografik sangat mempengaruhi etiologi demam pada anak. Pemberian antibiotic
pertama dan hospitalisasi sangat juga dipengaruhi oleh fasilitas sarana
perawatan dan pemeriksaan penunjang. Setiap rumah sakit seharusnya mempunyai pedoman
diagnosis dan terapi tersendiri, tergantung pada pola epidemiologik penyakit tersebut.
Pada penelitian MTBS tahun 1998, di Indonesia etiologi demam pada anak sebagian
besar (lebih dari 80%) adalah infeksi.13,14
i. Tatalaksana Demam Menurut Umur
Tatalaksana demam pada bayi kecil telah mengalami perubahan yang
cukup signifikan. Pada kelompok bayi dengan usia kurang 2 bulan, pendekatan
yang umum dilakukan ialah hospitalisasi untuk mendapatkan pengobatan antimikrobial
empirik. Pada tahun 1993, para ahli infeksi, gawat darurat dan kesehatan anak
sepakat melakukan pendekatan lebih konservatif dengan cara rawat jalan untuk
kasus-kasus ini, bila risiko terhadap SBI rendah. Salah satu pendekatan yang
dapat dilakukan untuk mengurangi perawatan adalah dengan menggunakan penyaring:
Yale Acute Illness Observation Scale atau criteria Rochester. Pada kelompok ini
bila hasil laboratorium menunjukkan adanya tanda infeksi (leukosit darah <5.000
atau >15.000, hitung neutrofil darah>1500, leukosit urin di atas 10/lpb,
leukosit tinja >5/lpb), anak segera masuk RS dan langsung mendapatkan pengobatan
antimikrobial secara empirik. Pada kelompok yang tidak memenuhi kriteria ini,
maka ada 2 pilihan yaitu:
1. melakukan
kultur urin, kultur darah, kultur cairan serebro spinalis, diberikan ceftriaxon
dan diminta kontrol kembali setelah 24 jam.
2. melakukan kultur urin dan
observasi dulu. Pada anak dengan usia kurang dari 28 hari, pendekatan sebaiknya
lebih agresif dengan langsung memasukan ke RS untuk mendapatkan terapi
antimicrobial secara empirik. Pada kelompok usia 3- 36 bulan, risiko adanya
bakteriemia pada anak dengan demam sekitar 3-11%. Bakteriemia tidak terjadi pada
kelompok ini bila: leukosit <15.000 dengan suhu >390C, sedang kemungkinan
bakteriemia akan 5 kali lipat bila lekosit >15.000. Pada kelompok belakangan
ini langsung dilakukan kultur darah dan pemberian ceftriaxon. Pada kelompok
anak di atas 36 bulan, pengobatan bisa dilakukan secara etiologik, dengan
memperhatikan adanya kegawatan.
Pada akhirnya apapun yang
dianjurkan akan tetap menimbulkan perdebatan. Tidak ada satu standard yang
harus ditaati untuk dijadikan pegangan. Semua tindakan tetap harus dilakukan
berdasarkan pada anamnesis yang tajam dan terarah, dan pemeriksaan fisis yang
teliti. Kecenderungan dokter untuk bertindak, sangat dipengaruhi oleh
pengalaman yang mereka dapat dan keluasan pengetahuan yang dimiliki. Pilihan
antara melakukan tes atau tidak, melakukan pemberian antibiotik atau observasi,
sangat tergantung pada pendirian dan kepribadian dokter.
• Anak yang tampak toksik
harus segera mendapat tindakan yang segera
• Semakin muda, semakin
tinggi ketidak tentuan klinisnya
• Anak yang tidak tampak toksik dapat menyulitkan, karenanya perlu
pengamatan yang sangat ketat
• Tidak perlu selalu melakukan pemeriksaan penunjang dan bila
dilakukan pemeriksaan penunjang, tindakan
harus sesuai dengan hasilnya
• Catat dengan cermat apa yang dilakukan atau tidak dilakukan
• Tidak ada aturan baku yang harus ditaati
2.4 Kejang Demam
a. Definisi Kejang Demam
Kejang demam adalah bangkitan kejang
yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal lebih dari, 38oC) akibat
suatu proses ekstra kranial, biasanya terjadi antara umur 3 bulan dan 5 tahun.
Setiap kejang kemungkinan dapat menimbulkan epilepsi dan trauma pada otak,
sehingga mencemaskan orang tua. Pengobatan dengan antikonvulsan setiap hari
yaitu dengan fenobarbital atau asam valproat mengurangi kejadian kejang demam berulang.
Obat pencegahan kejang tanpa demam (epilepsi) tidak pernah dilaporkan. Pengobatan
intermittent dengan diazepam pada permulaan pada kejang demam pertama memberikan
hasil yang lebih baik. Antipiretik bermanfaat, tetapi tidak dapat mencegah kejang
demam namun tidak dapat mencegah berulangnya kejang demam.
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang
terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal lebih dari 38oC) akibat suatu proses
ekstra kranial.1-4 Dalam praktek sehari-hari orang tua sering cemas bila anaknya
mengalami kejang, karena setiap kejang kemungkinan dapat menimbulkan epilepsy dan
trauma pada otak.5 Kejang merupakan gangguan syaraf yang sering dijumpai pada
anak.1-3 Insiden kejang demam 2,2-5% pada anak di bawah usia 5 tahun. 1-3Anak
laki-laki lebih sering dari pada perempuan dengan perbandingan 1,2–1,6:1.1,2
Saing B (1999), menemukan 62,2%, kemungkinan kejang demam berulang pada 90 anak
yang mengalami kejang demam sebelum usia 12 tahun, dan 45% pada 100 anak yang
mengalami kejang setelah usia 12 tahun.1 Kejang demam kompleks dan khususnya
kejang demam fokal merupakan prediksi untuk terjadinya epilepsi.6 Sebagian
besar peneliti melaporkan angka kejadian epilepsi kemudian hari sekitar 2 – 5
%.3 Tujuan tulisan ini adalah mengemukakan adanya pilihan obat lain agar.
b. Diagnosis Kejang Demam
Menurut Consensus Statement on Febrile
Seizures, kejang demam adalah bangkitan kejang pada bayi dan anak, biasanya
terjadi antara umur 3 bulan dan 5 tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak
terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab lain.7
Penggolongan kejang demam menurut criteria
Nationall Collaborative Perinatal Project adalah kejang demam sederhana dan
kejang demam kompleks. Kejang demam sederhana adalah kejang demam yang lama
kejangnya kurang dari 15 menit, umum dan tidak berulang pada satu episode
demam. Kejang demam kompleks adalah kejang demam yang lebih lama dari 15 menit
baik bersifat fokal atau multipel.4 Kejang demam berulang adalah kejang demam
yang timbul pada lebih dari satu episode demam.3 Penggolongan tidak lagi menurut
kejang demam sederhana dan epilepsi yang diprovokasi demam tetapi dibagi
menjadi pasien yang memerlukan dan tidak memerlukan pengobatan rumat3.
Umumnya kejang demam pada anak
berlangsung pada permulaan demam akut, berupa serangan kejang klonik umum atau
tonik klonik, singkat dan tidak ada tanda-tanda neurologi post iktal,2,3
Pemeriksaan EEG pada kejang demam
dapat memperlihatkan gelombang lambat di daerah belakang yang bilateral, sering
asimetris, kadang-kadang unilateral.1,3 Pemeriksaan EEG dilakukan pada kejang
demam kompleks atau anak yang
mempunyai risiko untuk terjadinya epilepsi.8
Pemeriksaan pungsi lumbal diindikasikan pada saat pertama sekali timbul
kejang demam untuk menyingkirkan adanya proses infeksi intra kranial,7 perdarahan
subaraknoid atau gangguan demielinasi,8 dan dianjurkan pada anak usia kurang
dari 2 tahun yang menderita kejang demam.1-3
c. Tata Laksana Kejang Demam
Tujuan pengobatan kejang demam pada anak adalah untuk,
• Mencegah kejang demam berulang
• Mencegah status epilepsi
• Mencegah epilepsi dan / atau mental retardasi
• Normalisasi kehidupan anak dan keluarga.
d. Pengobatan Fase Akut
Anak yang sedang mengalami kejang,
prioritas utama adalah menjaga agar jalan nafas tetap terbuka. Pakaian dilonggarkan,
posisi anak dimiringkan untuk mencegah aspirasi. Sebagian besar kasus kejang berhenti
sendiri, tetapi dapat juga berlangsung terus atau berulang. Pengisapan lendir
dan pemberian oksigen harus dilakukan teratur, kalau perlu dilakukan intubasi.2,3,9
Keadaan dan kebutuhan cairan, kalori dan elektrolit harus diperhatikan. Suhu
tubuh dapat diturunkan dengan kompres air hangat (diseka) dan pemberian
antipiretik2,3,9,10 (asetaminofen oral 10 mg/ kg BB, 4 kali sehari atau
ibuprofen oral 20 mg/kg BB, 4 kali sehari).11
Saat ini diazepam merupakan obat
pilihan utama untuk kejang demam fase akut, karena diazepam mempunyai masa
kerja yang singkat.12 Diazepam dapat diberikan secara intravena atau rektal,2,3
jika diberikan intramuskular absorbsinya lambat.13 Dosis diazepam pada anak
adalah 0,3 mg/kg BB, diberikan secara intravena pada kejang demam fase akut,14
tetapi pemberian tersebut sering gagal
pada anak yang lebih kecil.15 Jika jalur intravena belum terpasang, diazepam dapat
diberikan per rektal dengan dosis 5 mg bila berat badan kurang dari 10 kg dan
10 mg pada berat badan lebih dari 10 kg.2,3,16 Pemberian diazepam secara rektal
aman dan efektif serta dapat pula diberikan oleh orang tua di rumah.2,3,9,15
Bila diazepam tidak tersedia, dapat diberikan luminal suntikan intramuskular
dengan dosis awal 30 mg untuk neonatus, 50 mg untuk usia 1 bulan – 1 tahun, dan
75 mg untuk usia lebih dari 1 tahun.2 Midazolam intranasal (0,2 mg/kg BB) telah
diteliti aman dan efektif untuk mengantisipasi kejang demam akut pada anak.12
Kecepatan absorbsi midazolam ke aliran darah vena dan efeknya pada sistem
syaraf pusat cukup baik;17 Namun efek terapinya masih kurang bila dibandingkan
dengan diazepam intravena.18
e. Mencari dan Mengobati Penyebab
Kejang dengan suhu badan yang tinggi
dapat terjadi karena faktor lain, seperti meningitis atau ensefalitis.Oleh
sebab itu pemeriksaan cairan serebrospinal diindikasikan pada anak pasien
kejang demam berusia kurang dari 2 tahun, karena gejala rangsang selaput otak
lebih sulit ditemukan pada kelompok umur tersebut. Pada saat melakukan pungsi
lumbal harus diperhatikan pula kontra indikasinya.1-3 Pemeriksaan laboratorium
lain dilakukan atas indikasi untuk mencari penyebab, seperti pemeriksaan darah
rutin, kadar gula darah dan elektrolit. Pemeriksaan CT-Scan dilakukan pada anak
dengan kejang yang tidak diprovokasi oleh demam dan pertama kali terjadi,
terutama jika kejang atau pemeriksaan post iktal menunjukkan abnormalitas
fokal.19
f. Pengobatan Profilaksis Terhadap Kejang Demam
Berulang
Pencegahan kejang demam berulang perlu
dilakukan, karena menakutkan keluarga dan bila berlangsung terus dapat
menyebabkan kerusakan otak yang menetap.2 Terdapat 2 cara profilaksis, yaitu,2,3,9
• Profilaksis intermittent pada waktu
demam
• Profilaksis terus menerus dengan
antikonvulsan tiap hari.
g. Profilaksis Intermittent pada Waktu Demam
Pengobatan profilaksis intermittent
dengan anti konvulsan segera diberikan pada waktu pasien demam 61 Sari
Pediatri, Vol. 4, No. 2, September 2002 (suhu rektal lebih dari 38ºC). Pilihan
obat harus dapat cepat masuk dan bekerja ke otak.2,3 Antipiretik saja dan
fenobarbital tidak mencegah timbulnya kejang berulang.2,10 Rosman dkk,20
meneliti bahwa diazepam oral efektif untuk mencegah kejang demam berulang dan
bila diberikan intermittent hasilnya lebih baik karena penyerapannya lebih
cepat.2,3 Diazepam diberikan melalui oral atau rektal.2,3,9 Dosis per rectal tiap
8 jam adalah 5 mg untuk pasien dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg
untuk pasien dengan berat badan lebih dari 10 kg. Dosis oral diberikan 0,5 mg/kg
BB perhari dibagi dalam 3 dosis, diberikan bila pasien menunjukkan suhu 38,5oC
atau lebih.2,3 Efek samping diazepam adalah ataksia, mengantuk dan hipotoni.3 Martinez
dkk, dikutip dari Soetomenggolo dkk 3 menggunakan klonazepam sebagai obat anti
konvulsan intermittent (0,03 mg/kg BB per dosis tiap 8 jam) selama suhu diatas
38oC dan dilanjutkan jika masih demam. Ternyata kejang demam berulang terjadi
hanya pada 2,5% dari 100 anak yang diteliti. Efek samping klonazepam yaitu
mengantuk, mudah tersinggung, gangguan tingkah laku, depresi, dan salivasi
berlebihan.3 Tachibana dkk, dikutip dari Soetomenggolo dkk 3 meneliti khasiat
kloralhidrat supositoria untuk mencegah kejang demam berulang. Dosis yang diberikan
adalah 250 mg untuk berat badan kurang dari 15 kg, dan 500 mg untuk berat badan
lebih dari 15 kg, diberikan bila suhu diatas 38oC. Hasil yang didapat adalah
terjadinya kejang demam berulang pada 6,9% pasien yang menggunakan supositoria kloralhidrat
dibanding dengan 32% pasien yang tidak menggunakannya. Kloralhidrat
dikontraindikasikan pada pasien dengan kerusakan ginjal, hepar, penyakit jantung,
dan gastritis.8
h. Profilaksis Terus Menerus dengan Antikonvulsan
Tiap Hari
Indikasi pemberian profilaksis terus menerus pada saat ini
adalah:2,3
• Sebelum kejang demam
yang pertama sudah ada kelainan atau gangguan perkembangan neurologis.
• Terdapat riwayat
kejang tanpa demam yang bersifat genetik pada orang tua atau saudara kandung.
• Kejang demam lebih
lama dari 15 menit, fokal atau diikuti kelainan neurologis sementara atau menetap.
• Kejang demam terjadi
pada bayi berumur kurang dari 12 bulan atau terjadi kejang multipel dalam satu
episode demam.
Antikonvulsan profilaksis terus
menerus diberikan selama 1 – 2 tahun setelah kejang terakhir, kemudian dihentikan
secara bertahap selama 1 – 2 bulan.2,3,21 Pemberian profilaksis terus menerus hanya
berguna untuk mencegah berulangnya kejang demam berat, tetapi tidak dapat
mencegah timbulnya epilepsi di kemudian hari3. Pemberian fenobarbital 4 – 5
mg/kg BB perhari dengan kadar sebesar 16 mg/mL dalam darah menunjukkan hasil
yang bermakna untuk mencegah berulangnya kejang demam.1,3 Efek samping fenobarbital
ialah iritabel, hiperaktif, pemarah dan agresif ditemukan pada 30–50 % kasus.
Efek samping fenobarbital dapat dikurangi dengan menurunkan dosis.3 Obat lain yang dapat
digunakan adalah asam valproat yang memiliki khasiat sama dibandingkan dengan
fenobarbital3,22. Ngwane meneliti kejadian kejang berulang sebesar 5,5 % pada
kelompok yang diobati dengan asam valproat dan 33 % pada kelompok tanpa
pengobatan dengan asam valproat.22 Dosis asam valproat adalah 15 –40 mg/kg BB
perhari.3 Efek samping yang ditemukan adalah hepatotoksik, tremor dan alopesia8,23.
Fenitoin dan karbamazepin tidak memiliki efek profilaksis terus menerus2,3,
Millichap,24 merekomendasikan beberapa
hal dalam upaya mencegah dan menghadapi kejang demam.
• Orang tua atau
pengasuh anak harus diberi cukup informasi mengenai penanganan demam dan kejang.
• Profilaksis intermittent
dilakukan dengan memberikan diazepam dosis 0,5 mg/kg BB perhari, per oral pada
saat anak menderita demam. Sebagai alternatif dapat diberikan profilaksis terus
menerus dengan fenobarbital.
• Memberikan diazepam
per rektal bila terjadi kejang.
• Pemberian fenobarbital
profilaksis dilakukan atas indikasi, pemberian sebaiknya dibatasi sampai 6 – 12 bulan kejang tidak berulang lagi dan kadar
fenoborbital dalam darah dipantau tiap 6 minggu – 3 bulan, juga dipantau
keadaan tingkah laku dan psikologis anak.
i. Penatalaksanaan Kejang Demam
Penatalaksanaan kejang demam pada anak mencakup dalam tiga hal.
1. Pengobatan fase akut
yaitu membebaskan jalan nafas dan memantau fungsi vital tubuh. Saat ini diazepam
intravena atau rektal merupakan obat pilihan utama, oleh karena mempunyai masa
kerja yang singkat. Jika tidak ada diazepam, dapat digunakan luminal suntikan intramuscular
ataupun yang lebih praktis midazolam intranasal.
2. Mencari dan mengobati penyebab dengan melakukan pemeriksaan
pungsi lumbal pada saat pertama sekali kejang demam. Fungsi lumbal juga dianjurkan
pada anak usia kurang dari 2 tahun karena gejala neurologis sulit ditemukan.
Pemeriksaan laboratorium penunjang lain dilakukan sesuai indikasi.
3. Pengobatan profilaksis.
a. Intermittent : anti konvulsan segera diberikan pada waktu pasien demam (suhu
rektal lebih dari 380 C) dengan menggunakan diazepam oral / rektal, klonazepam
atau kloralhidrat supositoria.
b. Terus menerus, dengan memberikan fenobarbital atau
asam valproat tiap hari untuk mencegah berulangnya kejang demam. Pemberian
obat-obatan untuk penatalaksanaan kejang demam pada anak, harus dipertimbangkan
antara khasiat tarapeutik obat dan efek sampingnya.
2.5 ISPA ( Inspeksi Saluran
Pernafasan Akut )
a. Definisi ISPA
ISPA sering disalah artikan sebagai infeksi
saluran pernapasan atas. Yang benar ISPA merupakan singkatan dari Infeksi
Saluran Pernapasan Akut. ISPA meliputi saluran pernapasan bagian atas dan
saluran pernapasan bagian bawah (6).
ISPA adalah infeksi saluran pernapasan
yang berlangsung sampai 14 hari. Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah
organ mulai dari hidung sampai gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya
seperti : sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru (5,7).
Sebagian besar dari infeksi saluran
pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek dan tidak memerlukan
pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak akan menderita pneumoni bila
infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibat kematian (5).
Program Pemberantasan Penyakit (P2) ISPA
membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu pneumonia dan yang bukan
pneumonia. Pneumonia dibagi atas derajat beratnya penyakit yaitu pneumonia
berat dan pneumonia tidak berat. Penyakit batuk pilek seperti rinitis,
faringitis, tonsilitis dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya digolongkan
sebagai bukan pneumonia. Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas
bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik. Faringitis
oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan pada balita. Bila ditemukan harus
diobati dengan antibiotik penisilin, semua radang telinga akut harus mendapat
antibiotik (6).
ISPA dapat ditularkan melalui air ludah,
darah, bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang
sehat kesaluran pernapasannya (7).
Kelainan pada sistem pernapasan terutama
infeksi saluran pernapasan bagian atas dan bawah, asma dan ibro kistik,
menempati bagian yang cukup besar pada lapangan pediatri. Infeksi saluran
pernapasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi pada
semua golongan masyarakat pada bulan-bulan musim dingin.
Tetapi ISPA yang berlanjut menjadi
pneumonia sering terjadi pada anak kecil terutama apabila terdapat gizi kurang
dan dikombinasi dengan keadaan lingkungan yang tidak hygiene. Risiko terutama
terjadi pada anak-anak karena meningkatnya kemungkinan infeksi silang, beban
immunologisnya terlalu besar karena dipakai untuk penyakit parasit dan cacing,
serta tidak tersedianya atau berlebihannya pemakaian antibiotik (8).
b. Tanda-tanda bahaya ISPA
Pada umumnya suatu penyakit saluran
pernapasan dimulai dengan keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang ringan. Dalam
perjalanan penyakit mungkin gejala-gejala menjadi lebih berat dan bila semakin
berat dapat jatuh dalam keadaan kegagalan pernapasan dan mungkin meninggal.
Bila sudah dalam kegagalan pernapasan maka dibutuhkan penatalaksanaan yang
lebih rumit, meskipun demikian mortalitas masih tinggi, maka perlu diusahakan
agar yang ringan tidak menjadi lebih berat dan yang sudah berat cepat-cepat
ditolong dengan tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan pernapasan.
Tanda-tanda bahaya dapat dilihat
berdasarkan tanda-tanda klinis dan tanda-tanda laboratoris.
Tanda-tanda klinis
• Pada sistem respiratorik
adalah: tachypnea, napas tak teratur (apnea), retraksi dinding thorak, napas
cuping hidung, cyanosis, suara napas lemah atau hilang, grunting expiratoir dan
wheezing.
• Pada sistem cardial
adalah: tachycardia, bradycardiam, hypertensi, hypotensi dan cardiac arrest.
• Pada sistem cerebral
adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung, papil bendung,
kejang dan coma.
• Pada hal umum adalah :
letih dan berkeringat banyak.
Tanda-tanda laboratoris
• hypoxemia,
• hypercapnia dan acydosis (metabolik dan atau respiratorik)
(4). Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun adalah:
tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor dan gizi buruk, sedangkan
tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan adalah: kurang bisa
minum (kemampuan minumnya menurun ampai kurang dari setengah volume yang biasa
diminumnya), kejang, kesadaran menurun, stridor, Wheezing, demam dan dingin
(4).
c. Penatalaksanaan Kasus ISPA
Penemuan dini penderita pneumonia dengan
penatalaksanaan kasus yang benar merupakan strategi untuk mencapai dua dari
tiga tujuan program (turunnya kematian karena pneumonia dan turunnya penggunaan
antibiotik dan obat batuk yang kurang tepat pada pengobatan penyakit ISPA) .
Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan
memberikan petunjuk standar pengobatan penyakit ISPA yang akan berdampak
mengurangi penggunaan antibiotik untuk kasus-kasus batuk pilek biasa, serta
mengurangi penggunaan obat batuk yang kurang bermanfaat. Strategi
penatalaksanaan kasus mencakup pula petunjuk tentang pemberian makanan dan
minuman sebagai bagian dari tindakan penunjang yang penting bagi pederita ISPA
(4). Penatalaksanaan ISPA meliputi langkah atau tindakan sebagai berikut :
d. Pemeriksaan
Pemeriksaan artinya memperoleh informasi
tentang penyakit anak dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada ibunya,
melihat dan mendengarkan anak (5).
Hal ini penting agar selama pemeriksaan
anak tidak menangis (bila menangis akan meningkatkan frekuensi napas), untuk
ini diusahakan agar anak tetap dipangku oleh ibunya. Menghitung napas dapat
dilakukan tanpa membuka baju anak. Bila baju anak tebal, mungkin perlu membuka
sedikit untuk melihat gerakan dada. Untuk melihat tarikan dada bagian bawah,
baju anak harus dibuka sedikit. Tanpa pemeriksaan auskultasi dengan steteskop
penyakit pneumonia dapat didiagnosa dan diklassifikasi (4).
e. Klasifikasi ISPA
Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA)
mengklasifikasi ISPA sebagai berikut:
• Pneumonia berat: ditandai
secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam (chest indrawing).
• Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya
napas cepat.
• Bukan pneumonia:
ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam, tanpa tarikan
dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis dan
tonsilitis tergolong bukan pneumonia (4).
Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat dibuat suatu klasifikasi
penyakit ISPA. Klasifikasi ini dibedakan untuk golongan umur dibawah 2 bulan
dan untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun.
Untuk golongan umur kurang 2 bulan ada 2 klasifikasi penyakit
yaitu :
• Pneumonia berada:
diisolasi dari cacing tanah oleh Ruiz dan kuat dinding pada bagian bawah atau
napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan umur kurang 2 bulan yaitu 60 kali
per menit atau lebih.
• Bukan pneumonia: batuk
pilek biasa, bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah
atau napas cepat.
Untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun ada 3 klasifikasi
penyakit yaitu :
• Pneumonia berat: bila
disertai napas sesak yaitu adanya tarikan dinding dada bagian bawah kedalam
pada waktu anak menarik napas (pada saat diperiksa anak harus dalam keadaan
tenang tldak menangis atau meronta).
• Pneumonia: bila disertai
napas cepat. Batas napas cepat ialah untuk usia 2 -12 bulan adalah 50 kali per
menit atau lebih dan untuk usia 1 -4 tahun adalah 40 kali per menit atau lebih.
• Bukan pneumonia: batuk
pilek biasa, bila tidak
f. Pengobatan
• Pneumonia berat : dirawat
di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral, oksigendan sebagainya.
• Pneumonia: diberi obat antibiotik
kotrimoksasol peroral. Bila penderita tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau
ternyata dengan pemberian kontrmoksasol keadaan penderita menetap, dapat
dipakai obat antibiotik pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin
prokain.
• Bukan pneumonia: tanpa
pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan di rumah, untuk batuk dapat
digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat
yang merugikan seperti kodein,dekstrometorfan dan, antihistamin.
Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu
parasetamol. Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat adanya
bercak nanah (eksudat) disertai pembesaran kelenjar getah bening dileher, dianggap
sebagai radang tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi
antibiotik (penisilin) selama 10 hari. Tanda bahaya setiap bayi atau anak
dengan tanda bahaya harus diberikan perawatan khusus untuk pemeriksaan
selanjutnya. Petunjuk dosis dapat dilihat pada lampiran.
g. Perawatan dirumah
Beberapa hal yang perlu dikerjakan
seorang ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita ISPA.
§ Mengatasi panas (demam)
Untuk anak usia 2
bulan samapi 5 tahun demam diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan
kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol
diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet
dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan
kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air
es).
§ Mengatasi batuk
Dianjurkan memberi
obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis ½ sendok teh
dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh diberikan tiga kali sehari.
§ Pemberian makanan
Berikan makanan yang
cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari
biasanya, lebih-lebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap
diteruskan.
§ Pemberian minuman
Usahakan pemberian
cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya. Ini
akan membantu mengencerkan dahak, kekurangan cairan akan menambah parah sakit
yang diderita.
§ Lain-lain
Tidak dianjurkan
mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih pada
anak dengan demam. Jika pilek, bersihkan hidung yang berguna untuk mempercepat
kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah. Usahakan lingkungan
tempat tinggal yang sehat yaitu yang berventilasi cukup dan tidak berasap.
Apabila selama perawatan dirumah keadaan anak memburuk maka dianjurkan untuk
membawa kedokter atau petugas kesehatan. Untuk penderita yang mendapat obat
antibiotik, selain tindakan diatas usahakan agar obat yang diperoleh tersebut
diberikan dengan benar selama 5 hari penuh. Dan untuk penderita yang
mendapatkan antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari anak dibawa kembali
kepetugas kesehatan untuk pemeriksaan ulang (4,5) .
h. Pencegahan dan Pemberantasan
-
Pencegahan
dapat dilakukan dengan :
• Menjaga keadaan gizi agar
tetap baik.
• Immunisasi.
• Menjaga kebersihan
prorangan dan lingkungan.
• Mencegah anak berhubungan
dengan penderita ISPA.
-
Pemberantasan
yang dilakukan adalah :
• Penyuluhan kesehatan yang
terutama di tuj ukan pada para ibu.
• Pengelolaan kasus yang
disempurnakan.
• Immunisasi .
-
Pelaksana
pemberantasan
Tugas pemberatasan
penyakit ISPA merupakan tanggung jawab bersama. Kepala Puskesmas bertanggung
jawab bagi keberhasilan pemberantasan di wilayah kerjanya.
Sebagian besar kematiaan akibat penyakit
pneumonia terjadi sebelum penderita mendapat pengobatan petugas Puskesmas.
Karena itu peran serta aktif masyarakat melalui aktifitas kader akan
sangat'membantu menemukan kasus-kasus pneumonia, yang perlu mendapat pengobatan
antibiotik (kotrimoksasol) dan kasus-kasus pneumonia berat yang perlu segera
dirujuk ke rumah sakit.
Dokter puskesmas mempunyai tugas sebagai berikut :
• Membuat rencana aktifitas pemberantasan ISPA
sesuai dengan dana atau sarana dan tenaga yang tersedia.
• Melakukan supervisi dan memberikan bimbingan
penatalaksanaan standar kasus-kasus ISPA kepada perawat atau paramedis.
• Melakukan pemeriksaan pengobatan kasus- kasus pneumonia
berat/penyakit dengan tanda-tanda bahaya yang dirujuk oleh perawat/paramedis
dan merujuknya ke rumah sakit bila dianggap perlu.
• Memberikan pengobatan kasus pneumonia berat
yang tidak bisa dirujuk ke rumah sakit.
• Bersama dengan staff puskesmas memberi kan
penyuluhan kepada ibu-ibu yang mempunyai anak balita. perihal pengenalan
tanda-tanda penyakit pneumonia serta tindakan penunjang di rumah,
• Melatih semua petugas kesehatan di wilayah
puskesmas yang di beri wewenang mengobati penderita penyakit ISPA,
• Melatih kader untuk bisa, mengenal kasus
pneumonia serta dapat memberikan penyuluhan terhadap ibu-ibu tentang penyaki
ISPA,
• Memantau aktifitas pemberantasan dan melakukan
evaluasi keberhasilan pemberantasan penyakit ISPA. menditeksi hambatan yang ada
serta menanggulanginya termasuk aktifitas pencatatan dan pelaporan serta
pencapaian target.
Paramedis
Puskesmas Puskesmas pembantu
• Melakukan penatalaksanaan standar kasus-kasus
ISPA sesuai petunjuk yang ada.
• Melakukan konsultasi kepada dokter Puskesmas
untuk kasus-kasus ISPA tertentu seperti pneumoni berat, penderita dengan
weezhing dan stridor.
• Bersama dokter atau dibawah, petunjuk dokter
melatih kader.
• Memberi penyuluhan terutama kepada ibu-ibu.
• Melakukan tugas-tugas lain
yang diberikan oleh pimpinan Puskesmas sehubungan dengan pelaksanaan program
pemberantasan penyakit ISPA.
Kader kesehatan
• Dilatih untuk bisa membedakan kasus pneumonia
(pneumonia berat dan pneumonia tidak berat) dari kasus-kasus bukan pneumonia.
• Memberikan penjelasan dan komunikasi perihal
penyakit batuk pilek biasa (bukan pneumonia) serta penyakit pneumonia kepada
ibu-ibu serta perihal
2.6 Demam
Berdarah
a. Definisi Demam Berdarah
anak sakit gawat ialah anak nyawanya terancam
oleh kekurangan suplai oksigen dan
nutrien yang disebabkan oleh disfungsi respirasi
dan kardiovaskular atau peningkatan kebutuhan
oksigen pada berbagai keadaan stres seperti trauma,
tindakan bedah, luka bakar, sepsis, demam tinggi,
keracunan, syok, malformasi kongenital, keganasan,
henti jantung-paru dan sakit gawat lain.1-4 Defisiensi
oksigen selular berpengaruh buruk pada fungsi
sistem saraf pusat, kardiovaskular, respirasi, gastrointestinal,
renal, dan hematologi yang bila berlangsung
lama dapat menimbulkan gangguan transportasi
oksigen global, disfungsi sistem organ multipel
dan kematian.5-9
Tubuh dipertahankan tetap dalam keadaan
normal oleh sistem homeostasis yaitu mekanisme kompensasi fisiologik yang
meliputi seluruh respons stres otonomik dan hormonal dengan meningkatkan curah
jantung dan pelepasan oksigen di organ vital secara optimal.5,10 Pada keadaan
suplai oksigen rendah, mekanisme neurohumoral terutama sistem saraf simpatis
diaktifkan sehingga terjadi vasokonstriksi dan pengalihan aliran darah dari
kulit, ginjal, saluran cerna dan otot rangka ke otak dan jantung. Perangsangan
sistem saraf simpatis juga menyebabkan pelepasan norepinefrin dan epinefrin, katekolamin
yang memberi efek serupa dengan stimulasi system saraf simpatis.5
Penurunan perfusi ginjal menyebabkan
pelepasan renin, angiotensin II, aldosteron dan arginine vasopressin (AVP)
sehingga terjadi retensi air dan sodium serta peningkatan volume intravaskular.
Penurunan pH susunan saraf pusat merangsang kemoreseptor di daerah medula
sehingga terjadi peningkatan volume tidal, frekuensi pernapasan,
hiperventilasi, volume pernapasan semenit, dan alkalosis respiratorik. Secara
umum pada anak sakit gawat, peningkatan aktivitas neurohumoral membantu
pelepasan oksigen melalui hiperventilasi, vasokonstriksi, redistribusi aliran
darah, peningkatan volume intravaskular, tekanan darah, denyut jantung dan
kontraktilitas miokard.5,10
Penanganan awal seorang anak sakit gawat
dilakukan melalui pendekatan pada disfungsi multisistem. Diarahkan pada
optimalisasi mekanisme kompensasi pelepasan nutrien terutama oksigen karena itu
selalu dimulai dengan tunjangan hidup dasar atau resusitasi jantung paru (resusitasi
ABC), disamping tatalaksana penyakit primer.5,11-13
b. Kegawatan Demam Berdarah Dengue
Manifestasi klinik utama demam berdarah
dengue (DBD) adalah demam tinggi (>39oC sampai hiperpireksi 40-41oC),
hepatomegali, fenomena perdarahan dan gagal sirkulasi. Sering terdapat keluhan
epigastrik, nyeri tekan pada pinggir kosta kanan, nyeri abdomen menyeluruh dan
mungkin disertai kejang.14 Kegawatan DBD adalah kegawatan medik akut yang
terutama melibatkan sistem hematologi dan kardiovaskular.14
Fenomena perdarahan pada DBD berkaitan dengan
perubahan vaskular, penurunan jumlah trombosit (<100.000/µl) dan
koagulopati. Tendensi perdarahan terlihat pada uji tourniquet positif, petekie,
purpura, ekimosis, dan perdarahan saluran cerna berupa hematemesis dan melena.14
Disfungsi
sirkulasi atau syok pada DBD, (sindrom syok dengue = SSD) yang biasanya terjadi
antara hari sakit ke 2-7, disebabkan oleh peningkatan permeabilitas vaskular
sehingga terjadi plasma leakage, efusi cairan serosa ke rongga pleura dan peritoneum,
hipoproteinemia, hemokonsentrasi dan hipovolemia, yang mengakibatkan
berkurangnya venous return, preload miokard, volume sekuncup dan curah jantung,
sehingga terjadi disfungsi sirkulasi dan penurunan perfusi organ. Gangguan
perfusi ginjal ditandai dengan oliguria atau anuria, sedangkan gangguan perfusi
susunan saraf pusat ditandai oleh penurunan kesadaran.5,14 Pada fase awal SSD
fungsi organ vital dipertahankan dari hipovolemia oleh sistem homeostasis dalam
bentuk takikardia, vasokonstriksi, penguatan kontraktilitas miokard, takipnea,
hiperpnea dan hiperventilasi. Vasokonstriksi perifer mengurangi perfusi non
esensial di kulit yang menyebabkan sianosis, penurunan suhu permukaan tubuh dan
pemanjangan waktu pengisian kapiler (>5 detik). Perbedaan suhu kulit dan
suhu tubuh lebih dari 2oC menunjukkan mekanisme homeostasis masih utuh. Pada
tahap SSD kompensasi curah jantung dan tekanan darah normal kembali.5,14 Penurunan tekanan darah merupakan manifestasi
lambat pada SSD, yang berarti sistem homeostasis terganggu, kelainan
hemodinamik berat, dan telah terjadi dekompensasi. Mula-mula tekanan nadi turun
kurang dari 20mmHg misalnya 100/ 90, oleh karena tekanan sistolik turun sesuai
dengan penurunan venous return dan volume sekuncup, sedangkan tekanan diastolik
meninggi sesuai dengan peningkatan tonus vaskular.5,14 Sindrom syok dengue berlanjut
dengan kegagalan mekanisme homeostasis. Efektivitas dan integritas sistem
kardiovaskular rusak, perfusi miokard dan curah jantung menurun, sirkulasi makro
dan mikro terganggu, terjadi iskemia jaringan, kerusakan fungsi sel secara
progresif dan ireversibel, sehingga terjadi kerusakan sel dan organ dan pasien
akan meninggal dalam 12-24 jam.5,14
Prognosis kegawatan DBD tergantung pada pengenalan,
pengobatan tepat, segera dan pemantauan syok secara ketat. Sekali SSD teratasi
walaupun berat, penyembuhan akan terjadi dalam 2-3 hari. Tanda prognosis baik
adalah membaiknya takikardia, takipneu dan kesadaran, diuresis cukup dan nafsu makan
timbul. Lama perjalanan DBD berat adalah 7- 10 hari. Pada masa konvalesen DBD
c. Tata laksana Kegawatan Demam Berdarah Dengue
Transisi SSD terkompensasi ke
ireversibel berlangsung cepat sekali, karena itu intervensi agresif untuk penyelamatan
hidup perlu dilakukan segera. Intervensi dilakukan sebelum terjadi anuria,
hipotensi, asidosis dan koma, yaitu saat terdapat tanda hipovolemia, hipoperfusi
dan takikardia.5,14 Tata laksana kegawatan DBD berorientasi pada pendekatan patofisiologi
multisistem terpadu yang diarahkan pada pemenuhan kebutuhan oksigen dan nutrien,
melalui optimalisasi curah jantung dan perfusi jantung, otak dan ginjal
sehingga fungsi homeostasis kembali normal, nutrisi dapat diberikan dan
kesembuhan dapat diharapkan
d. Urutan tata laksana kegawatan DBD
• Penimbangan berat badan. Berat badan perlu ditimbang
saat pasien datang sebagai dasar perhitungan pengobatan dan untuk menilai perjalanan
penyakit. Pada tahap awal, penimbangan berat badan dilakukan 2–3 kali sehari (dengan
timbangan gantung), selanjutnya paling kurang satu kali sehari. Perkiraan berat
badan dapat dihitung berdasarkan rumus: BB (kg) = 2 x umur (tahun) + 4.15
• Pemberian tunjangan hidup dasar. Obat pertama
yang harus diberikan pada kegawatan DBD adalah oksigen. Hipoksemia harus
dicegah dan dikoreksi. Dimulai dengan resusitasi jantung paru yang memastikan
jalan napas terbuka dan pernafasan adekuat. Saturasi oksigen dipertahankan
antara 95–100% dan kadar hemoglobin cukup.
• Pemasangan akses vena. Buat akses vena dan
ambil contoh darah untuk analisis gas darah, kadar hemoglobin, hemotokrit,
jumlah trombosit, golongan darah dan crossmatch, ureum, kreatinin, elektrolit
Na, K, Cl, Ca, Mg, P dan asam laktat.
• Pemasangan kateter urin.Pasang kateter urin
dan lakukan penampungan urin, pemeriksaan urinalisis, dan pengukuran berat
jenis urin. Jumlah dieresis dihitung setiap jam (normal: 2-3 ml/kgbb/jam). Bila
diuresis kurang dari 1 ml/kgbb/jam berarti terdapat hipoperfusi ginjal.
Oliguria lebih dahulu muncul dari pada penurunan tekanan darah dan takikardia.
• Pemasangan
pipa oro / nasogastrik.Pemasangan pipa oro / nasogastrik pada anak sakit gawat berguna
untuk dekompresi, memantau perdarahan saluran cerna (stres gastritis) dan
melakukan bilasan lambung dengan garam fisiologik.11-13 Stres Gastritis biasanya
memberi respons baik terhadap pembilasan lambung dan koreksi hemodinamik.16
• Resusitasi cairan. Resusitasi cairan adalah
pemberian bolus cairan resusitasi secara cepat melalui akses intravaskular atau
intraoseal pada keadaan hipovolemia. Tujuan resusitasi cairan adalah menyelamatkan
otak dari gangguan hipoksikiskemik, melalui peningkatan preload dan curah jantung,
mengembalikan volume sirkulasi efektif, mengembalikan oxygen-carrying capacity dan
mengoreksi gangguan metabolik dan elektrolit.5,15
e. Jenis cairan resusitasi
Cairan kristaloid isotonik efektif
mengisi ruang intersisial, mudah disediakan, tidak mahal, tidak menimbulkan
reaksi alergik; namun hanya seperempat bagian bolus tetap berada di ruang
intravaskular, sehingga diperlukan volume yang lebih besar 4-5 kali defisit
dengan risiko terjadi edema jaringan terutama paru. Contoh cairan kristaloid
isotonik adalah garam fisiologik (NaCl 0.9%), ringer laktat dan ringer asetat.5,14-15
Cairan koloid berada lebih lama di ruang intravaskular, mampu mempertahankan
tekanan onkotik, namun selain lebih mahal, dapat menyebabkan reaksi
sensitivitas dan komplikasi lain. Contoh cairan koloid adalah albumin 5%, hetastarch,
dextran 40% dan gelatin.5,14-15 Darah, fresh frozen-plasma dan komponen darah lain
diberikan untuk mempertahankan Hb, menaikkan daya angkut oksigen, memberikan
faktor pembekuan untuk mengoreksi koagulopati. Produk darah perlu
dihangatkan terlebih dahulu sebelum
diberikan. Risiko penggunaan darah dalam jumlah besar dan cepat adalah infeksi blood-borne,
hipotermia dan hipokalsemia, karena clearance sitrat tidak adekuat sehingga dapat
mengganggu fungsi miokard.15 Cairan yang mengandung glukosa tidak diberikan dalam
bentuk bolus karena dapat menyebabkan hiperglikemia, diuresis osmotik dan memperburuk
cedera serebral iskemik. Hiperglikemik yang sering terdapat pada pasien syok
akan terkontrol tanpa insulin oleh perbaikan fungsi homeostatik apabila syok teratasi.5,15
f. Cara pemberian cairan resusitasi
Resusitasi cairan paling baik dilakukan pada
tahap syok hipovolemik kompensasi, sehingga dapat mencegah terjadinya syok
dekompensasi dan ireversibel.5-15
Bolus kristaloid isotonik 10-30 ml/kgbb
diberikan dalam 6-10 menit, (WHO kurang dari 20 menit) melalui akses
intravaskular atau intraoseal dengan bantuan syringe pump dan three-way
stopcock.10,12 Setiap selesai pemberian bolus dilakukan penilaian keadaan anak.
Bila masih terdapat tanda syok diberikan bolus kristaloid kedua 10-30
ml/kgbb/6-10menit. Bolus selanjutnya baik kristaloid maupun koloid diberikan sampai
perfusi sistemik membaik dan syok teratasi.5-15 Anak yang mengalami syok
hipovolemik sering memerlukan cairan resusitasi 60-80 ml/kgbb dalam satu jam
pertama dan 200 ml/kgbb dalam beberapa jam kemudian.12 Ekspansi volume
intravaskular secara cepat dengan panduan diuresis dapat mengembalikan tekanan
darah dan perfusi perifer. Cairan resusitasi dapat diberikan secara aman sampai
30% volume intravaskular. Hal yang membatasi resusitasi cairan ialah apabila
peningkatan preload atau pengisian ventrikel tidak diikuti oleh peningkatan
curah jantung, tidak memperbaiki perfusi perifer dan vascular bed , vaskular,
dan edema.5-15
Bila volume yang diberikan lebih dari
50-100 ml/kgbb dalam 1-2 jam pertama perlu dilakukan pemantauan invasif tekanan
vena sentral (CVP) atau tekanan atrium kanan untuk menilai fungsi miokard. Bila
CVP <10 mmHg berarti fungsi miokard masih baik dan resusitasi cairan dapat
diteruskan. Bila CVP >10 mmHg berarti terdapat disfungsi miokard atau
penurunan kontraktilitas ventrikel kanan, peningkatan resistensi vaskular paru
(afterload ventrikel kanan) atau syok kardiogenik.5-15
g. Perawatan di PICU (Pediatric Intensive Care Unit)
Anak yang menderita SSD perlu dirawat di
PICU untuk memantau dan mengantisipasi perubahan sirkulasi dan metabolik dan
memberikan tindakan suportif intensif.
h. Pemberian obat-obatan
Umumnya kegawatan DBD cukup diatasi
dengan tunjangan ventilasi, pemberian oksigen dan resusitasi cairan. Pada SSD
berat obat yang mungkin pula perlu diberikan saat resusitasi adalah bolus
epinefrin, sodium bikarbonat, atropin, glukosa dan kalsium klorida, dan pasca
resusitasi untuk stabilitas hemodinamik adalah infus epinefrin, dopamin dan
dobutamin.15 Bolus obat resusitasi dapat diberikan secara intravena (IV), intraoseal
(IO) atau endotrakeal. Penyuntikan obat resusitasi intrakardial tidak dilakukan
lagi mengingat risiko terjadinya laserasi arteri koroner, tamponade dan aritmia
jantung disamping pijatan jantung terpaksa harus dihentikan sementara.15 Infus
obat resusitasi disiapkan dengan dekstrosa 5%, garam fisiologik atau ringer
laktat menurut rule of six yaitu 6 mg obat x BB (kg) dilarutkan dalam 100 mL,
diberikan dengan kecepatan 1 mL/jam = 1.0 µg/kgbb/menit.15
i. Epinefrin
Bolus epinefrin diberikan pada henti
jantung, bradikadia dan hipotensi yang non-responsif terhadap resusitasi
jantung paru dan resusitasi cairan. Dosis bolus epinefrin IV dan IO inisial
adalah 0.01 mg/kgbb (0.1 ml/kgbb epinefrin 1:10.000). Bila perlu dosis IV dan IO
dinaikkan menjadi 0.1-0.2 mg/kgbb (0.1-0.2 ml epinefrin 1:1000), yang diulang
tiap 3-5 menit. Dosis epinefrin endotrakeal adalah 0.1 mg/kgbb (0.1mL/ kgbb
epinefrin 1:1000).lah 0.01 mg/kg (0.1 mL/kgbb cairan 1:10.000) yang bila perlu
dinaikkan menjadi 0.1-0.2 mg/kgbb (0.1-0.2 mL/kgbb cairan 1:1000). Infus
epinefrin diberikan bila masih terdapat hipotensi, bradikardia dan perfusi
sistemik buruk. Dosis infuse epinefrin adalah 0.1-1.0 mg/kgbb/menit .
Epinefrin atau adrenalin adalah
katekolamin endogen dengan efek a dan b adrenergik yang bekerja langsung pada
reseptor adrenergik tanpa melalui pelepasan norepinefrin, karena itu dapat
diberikan kepada bayi dan anak walaupun cadangan norepinefrin miokard terbatas.
Efek b-adrenergik epinefrin yang muncul pada dosis rendah (<0.3 µg/kgbb/menit)
adalah peningkatan kontraktilitas miokard, laju denyut jantung, tekanan
sistolik dan nadi, relaksasi otot polos vascular bed otot rangka dan bronkus.
Efek a-adrenergik epinefrin yang muncul pada dosis tinggi (>0.3 µg/ kgbb/menit)
adalah vasokonstriksi splanknik, renal, ke otak dan jantung, meningkatkan
resistensi vascular sistemik, tekanan darah sistolik dan diastolik, meningkatkan
perfusi koroner dan pelepasan oksigen di jantung. Masa paruh epinefrin sekitar
2 menit, karena itu kecepatan infus epinefrin disesuaikan setiap 5 menit dengan
memperhatikan laju denyut jantung, tekanan darah dan perfusi. Untuk mencegah
ekstravasasi, infus epinefrin diberikan melalui kateter vena atau kateter vena
sentralis. Asidosis yang menekan katekolamin perlu dikoreksi dengan pemberian oksigen,
hiperventilasi dan perbaikan perfusi sistemik. Epinefrin tidak aktif pada
cairan alkali karena itu tidak dicampurkan pada cairan bikarbonat atau alkali
lain Epinefrin tersedia dalam vial 1 mg/mL. Larutan epinefrin 1:10.000
disiapkan untuk IV dan IO dosis rendah, larutan epinefrin 1:1000 disiapkan
untuk IV dan IO dosis tinggi dan endotrakeal, masing-masing larutan perlu
diberi label supaya tidak terjadi kesalahan. Infus epinefrin disiapkan menurut rule
of six. (0.6 mg epinefrin x BB kg) dalam 100 mL bila diinfuskan dengan
kecepatan 1mL/jam akan memberikan epinefrin 0.1 µg/kg/menit.
j. Sodium bikarbonat
Sodium bikarbonat hanya diberikan pada
henti jantung lama dan keadaan hemodinamik tidak stabil yang menyebabkan
asidosis berat dan hiperkalemia. Bila dengan resusitasi jantung paru, pijat
jantung dan pemberian bolus epinefrin masih terdapat henti jantung, di berikan
bolus sodium bikarbonat 1 mEq/kgbb IV/ IO (tidak endotrakeal). Sesudah
sirkulasi spontan terjadi, dosis sodiumbikarbonat selanjutnya didasarkan pada pemeriksaan
pH dan PaCO2. Bila pemeriksaan analisis gas darah tidak dapat dilakukan
diberikan sodium bikarbonat 0.5 mEq/kgbb tiap 10 menit secara infuse pelan
selama 1-2 menit. Pemberian bikarbonat akan menimbulkan reaksi H+
+ HCO3 H2CO3 H2O + CO2 di dalam darah sehingga pH plasma
meningkat. Larutan sodium bikarbonat 8.4% (1 mEq/L) sangat hiperosmolar (2000
mOsm/L) dibandingkan plasma 280 mOsm/L, dapat menyebabkan hiperosmolaritas, dan
hipernatremia. Pipa IV dan IO harus dibilas dulu dengan garam fisiologik
sebelum dan sesudah dipakai untuk memberikan sodium bikarbonat. Sodium bikarbonat
menyebabkan katekolamin tidak aktif dan pengendapan garam kalsium. Sodium
bikarbonat tidak diberikan melalui endotrakeal Ekstravasasi sodium bikarbonat
menyebabkan sklerosis vena dan nekrosis jaringan.
![]() |
![]() |
k. Atropin
Curah jantung pada anak adalah rate
dependent, karena itu bardikardia simptomatik (<60 kali/menit) akibat perfusi
buruk, hipotensi dan hipoksemia harus diobati dengan resusitasi jantung paru,
pemberian epinefrin atau atropin. Atropin adalah obat parasimpatolitik yang mempercepat
sinus atau pacemaker atrial dan konduksi atrioventrikular. Atropin digunakan
juga untuk mencegah bradikardia karena refleks vagal pada tindakan intubasi
endotrakeal. Dosis atropin harus cukup untuk menimbulkan efek vagolitik dan
mencegah bradikardi paradoks. Dosis atropin 0.02 mg/kgbb dengan dosis minimal
0.1 mg, Dosis atropin tunggal maksimal adalah 0.5 - 1 mg/kali yang dapat
diulang tiap 5 menit dengan dosis total maksimal 1 mg untuk anak dan 2 mg untuk
remaja. Atropin dapat diberikan melalui IV/IO dan endotrakeal. Atropin tersedia
dalam kemasan 0.4 mg/mL.
l. Glukosa
Glukosa hanya diberikan bila terdapat
hipoglikemia dan pasien tidak memberikan respons terhadap tindakan resusitasi
standar. Cadangan glikogen bayi dan anak sakit gawat terbatas dan cepat habis.
Gejala hipoglikemia serupa dengan gejala hipoksemia yaitu perfusi buruk,
takikardia, hipotermia, letargi dan hipotensi, karena hipoglikemia menekan
fungsi miokard. Glukosa diberikan dengan dosis 0.5-1.0 g/ kg secara IV atau IO.
Bolus D10W 5-10 ml/kgbb atau D5W atau D5 NaCl 0.9% atau RL 10-20 mL/kgbb dapat
diberikan dalam 20 menit untuk mengobati hipoglikemia, walaupun cairan resusitasi
mengandung glukosa tidak rutin digunakan. Konsentrasi maksimum D25W hanya
diberikan secara IV.
m. Kalsium klorida
Kalsium diberikan untuk mengobati
hipokalsemia, hiperkalemia dan hipermagnesemia. Kandungan elemen kalsium pada
kalsium glukonat 10% adalah 9 mg/mL dan pada kalsium klorida 10% adalah 27.2 mg/mL.
Dosis kalsium klorida 10% adalah 0.2-0.5 mL/kgbb atau 5-7 mg/kgbb elemen
kalsium sama dengan 20-25 mg/kgbb garam kalsium yang diberikan secara infus
pelan (100 mg/menit) untuk mencegah bradikardia dan asistol. Dosis ini dapat
diulangi satu kali lagi sesudah 10 menit. Dosis selanjutnya hanya diberikan
biila dilakukan pengukuran kadar kalsium. Kalsium tidak dicampur dengan sodium bikarbonat
karena dapat terjadi pengendapan.
n. Dopamin
Dopamin diberikan untuk mengobati
hipotensi atau perfusi perifer buruk pada anak dengan volume intravaskular
cukup dan irama jantung stabil. Dopamin tersedia dalam kemasan 40 mg/mL. Cairan
infus dopamin disiapkan menururt rule of six, yaitu 6 x BB(kg) mg dopamin dalam
cairan 100 ml. Apabila diinfuskan dengan kecepatan 1ml/jam akan memberikan dopamin
1 mg/kgbb/menit. Masa paruh dopamin pendek karena itu diberikan secara infuse kontinu
dengan bantuan pompa infus. Infus dopamine harus diberikan melalui kateter vena
yang besar atau kateter vena sentraliis. Ekstravasasi dopamin dapat menyebabkan
iskemia dan nekrosis jaringan lokal. Dopamin dan katekolamin lain tidak
diberikan bersamaan dengan sodium bikarbonat karena di nonaktifkan. Infus
dopamin dimulai dengan 10mL/ jam atau 10mg/kgbb/menit yang selanjutnya disesuaikan
dengan penilaian diuresis, perfusi sistemik, dan tekanan darah. Pada dosis
rendah (2–5mg/kgbb/ menit), efek langsung dopamin pada reseptor badrenergik jantung
sedikit, namun pada vascular bed dopamin merangsang reseptor dopaminergik
dengan efek vasodilatasi yang meningkatkan aliran darah renal, splangnik,
koroner dan serebral. Pada dosis tinggi (>5mg/kgbb/menit) dopamin memberi
efek langsung dan tidak langsung melalui pelepasan norepinefrin saraf simpatis
jantung pada reseptor β -adrenergik jantung dan efek vasokonstriksi β-adrenergik.
Efek inotropik dopamin pada anak terbatas sesuai dengan inervasi simpatis
miokard ventrikel yang belum sempurna. Infus dopamin 5-10 mg/kgbb/menit
meningkatkan kontraktilias jantung tanpa efek pada tekanan darah dan denyut
jantung. Infus dopamin 10-20 mgbb/kg/ menit terjadi vasokonstriksi dan
peningkatan tekanan darah namun timbul masalah takikardia. Infus dopamin
>20mg/kgbb/menit menyebabkan vasokonstriksi perifer hebat dan iskemia tanpa
tambahan efek inotropik. Karena itu bila diperlukan efek inotropik, dopamin
>20mg/kgbb/menit diberikan secara infus untuk memperoleh efek α dan β adrenergik
lebih kuat.
o. Dobutamin
Dobutamin diberikan pada pengobatan
hipoperfusi yang berhubungan dengan peninggian resistensi vaskular sistemik.
Dobutamin adalah katekolamin sintetik dengan efek selektif langsung pada
reseptor badrenergik dan tidak tergantung pada cadangan norepinefrin. Dobutamin
tidak mempunyai efek dopaminergik dan tidak berpengaruh pada aliran darah renal
dan splangnik. Dobutamin paling efektif untuk mengobati gagal jantung kongestif
atau syok kardiogenik terutama yang disebabkan oleh kardiomiopati karena
merendahkan resistensi vaskular paru dan sistemik sehingga meningkatkan curah
jantung. Dobutamin kurang efektif dibandingkan epinefrin pada syok septik dan
hipotensi karena memperburuk vasodilatasi sistemik yang sudah terjadi. Karena
masa paruhnya rendah dobutamin diberikan secara infuse kontinu melalui kateter
vena dengan bantuan pompa infus. Dobutamin tersedia dalam vial 25 mg dan 12.5 mg/mL.
Infus dobutamin disiapkan menurut rule of six. Ekstravasasi dobutamin dapat
menyebabkan iskemia jaringan dan nekrosis lokal. Dobutamin non aktif dalam
cairan alkali. Infus dopamin dimulai dengan dosis 5-10 mg/kgbb/menit (5-10
mL/jam). Kecepatan infus dobutamin disesuaikan dengan tekanan darah dan perfusi
pasien. Biasanya tidak diperlukan dosis dobutamin yang lebih besar daripada 20
mg/kgbb/menit.
Bab III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Beberapa penyakit yang umum diderita
anak hampir dipastikan pada satu saat menyerang anak kita. Oleh sebab itu
gejala penyakit dan cara penanganannya perlu dikenali. Penanganan juga bukan
hanya membantu penyembuhan, namun juga dapat mencegah timbulnya komplikasi
lebih jauh. Adapun beberapa jenis pada bayi dan anak balita yaitu : -
Panas/demam - Kejang Demam –ISPA-TBC-Diare-Demam Berdarah. Saran Adapun saran
dari penulisan makalah ini yaitu diharapkan pada pembaca makalah ini setelah
membaca isi dari makalah ini bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari,
misalnya untuk Penyakit ISPA Penatalaksanaan dan pemberantasan kasus ISPA
diperlukan kerjasama semua pihak, yaitu peranserta masyarakat terutama ibu-ibu,
dokter, para medis dam kader kesehatan untuk menunjang keberhasilan menurunkan
angka, kematian dan angka kesakitan sesuai harapan pembangunan nasional.
Daftar Pustaka
TBC
1. Tuberkulosis
– Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia, Perhimpunan Dokter Paru
Indonesia 2006.
2. Rahajoe
N, Basir D, Makmuri MS, Kartasasmita CB. Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak.
UKK Pulmonologi : PP IDAI, 2005.
Demam
1.
Kliegman RM, Behrman RE. Fever.
Dalam: Behrman RE, Kliegman RM, Nelson WE, Vaughn VC, penyunting. Nelson
textbook of pediatrics, edisi 14, Philadelphia: WB Saunders, 1992;h.647-56.
2.
Hardiono D Pusponegoro.
Penatalaksanaan demam pada anak.
3.
Departemen Kesehatan. Manajemen
terpadu balita sakit. Modul klasifikasi dan menentukan tindakan, 1999.
4.
Santoso SO. Mekanisme kerja dan
pemilihan obat antipiretik. Dalam: Iwan Darmansyah dan Suharti KS, penyunting. Penatalaksanaan
demam. Bagian Farmakologi FKUI dan IDI, Jakarta, 1982;h.1-8.
Kejang
Demam
1. Saing B. Faktor pada
kejang demam pertama yang berhubungan dengan terjadinya kejang demam berulang (Studi
selama 5 tahun). Medan: Balai Penerbit FK-USU, 1999:1–44.
2. Lumbantobing SM. Kejang demam. Jakarta: Balai Penerbit
FK-UI, 1995;1–52.
3. Soetomenggolo TS.
Kejang demam. Dalam: Soetomenggolo TS, Ismael S, Panyunting. Neurologi anak. Jakarta:
Balai Penerbit IDAI, 1999. h. 244-52.
ISPA (
Inspeksi Saluran Pernafasan Akut )
1. Ranuh, IG. G,
Pendekatan Risiko Tinggi Dalam Pengelolaan Pelayanan Kesehatan Anak. Continuing
Education Ilmu Kesehatan Anak. FK-UNAIR 1980.
2. Santosa, G. Masalah
Batuk pada Anak. Continuing Education Anak. FK-UNAIR. 1980.
3. Gawat Darurat
Dibidang Pulmonologi .Simposium Gawat Darurat Pada Anak. Surabaya. 1987.
4. DepKes RI. Direktorat
Jenderal PPM & PLP. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran
Pernafasan Akut (ISPA). Jakarta. 1992.
5. Bimbingan Ketrampilan
Dalam Penatalaksanaan Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Anak. Jakarata, :10
,1991.
6. Lokakarya Dan
Rakernas Pemberantasan Penyakit Infeksi saluran pernapasan akut. 1992.
7. Pendekatan
Epidemiologi I dan Dasar-Dasar Surveilans. Untuk Pelatihan Prajabatan Umum dan
Khusus Tenaga Paramedis di Puskesmas. Jakarta. 1992.
8. Rendie, J, et.al .
Ikhtisar Penyakit Anak. Alih bahasa: Eric Gultom. Binarupa Aksara. Jakarta.
1994.
Demam
Berdarah
1. Blumer JL. The critically ill child and the
pediatric intensive care unit. Dalam: Blumer JL, penyunting. A practical guide
to pediatric intensive care. Edisi ke-3. St. Louis: Mosby 1990. h. 3-5.
2. Zimmerman JJ. The pediatric critical care patient. Dalam:
Fuhrman BP, Zimmerman JJ, penyunting. Pediatric critical care. Edisi ke-2. St
Louis: Mosby 1998. h. 1-5.
3. McConnell MS, Perkin
RM. Shock sates. Dalam: Fuhrman BP, Zimmerman JJ, penyunting. Pediatric
critical care. Edisi ke-2. St Louis: Mosby 1998. h. 293-306.
4. Zimmerman JJ.
Sepsis/septic shock. Dalam: Fuhrman BP, Zimmerman JJ, penyunting. Pediatric
critical care. Edisi ke-2. St Louis: Mosby 1998. h. 1088-100.
Alamat
Web :
TBC : http://childrengrowup.wordpress.com/2012/05/06/tuberkulosis-atau-tb-tbc-pada-anak/
Bermanfaat bgt buat tgs aku,,
ReplyDeletenumpang copas y,, makasih....